Kerajaan Tambora merupakan salah satu kerajaan besar yang berada di pulau Sumbawa, ada dua kerajaan besar di pulau Sumbawa yaitu kerajaan tambora dan Kesultanan Bima, dalam lintasan sejarah kerajaan di pulau Sumbawa kerajaan Tambora mempunyai hubungan kekerabatan dengan kerajaan Gowa, karena pengaruh Gowa sangat signifikan dalam budaya maupun sistim pemerintahan yang di pakai oleh kerajaan tambora.

Awalnya kerajaan Tambora bernama Kengkelu pengaruh dari Klungkung (Bali), pada tanggal 3 Juli 1626 Sultan Gowa Alauddin menaklukkan wilayah Kengkelu. Seorang raja dari Klungkung yang bernama Bagus Ima tahun 1675 yang berkuasa di Kengkelu, dimana raja ini sering sekali menyerang kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa dan sering membajak kapal-kapal dagang yang lewat di perairan semenanjung sanggar.

Seringnya ada laporan dari para pedagang tentang bajak laut di wilayah perairan semenanjung sanggar pada kerajaan Gowa yang dimana sebagai penguasa wilayah timur kerajaan Gowa mengirimkan pasukannya untuk mengamankan wilayah itu yang di pimpin seorang Bumi Soro pada tahun 1677, setelah berhasil mengamankan wilayah semenanjung sanggar, Bumi Soro (gubernur perwakilan Gowa) membangun benteng di Tambora.

Setelah raja Bagus Ima di tumpas dan melarikan diri, maka dibangunlah sebuah kerajaan baru yang mandiri diberi nama Tambora dengan Raja yang menjabat yaitu Djamaluddin. Setelah raja Djamaluddin meninggal tahun 1687 di gantikan oleh anaknya Abdul Basyir, saat Raja Abdul Basyir berkuasa kerajaan Tambora sangat maju dan hubungan dagang yang berkembang pesat dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Tahun 1693 raja Abdul Basyir bersama kesultanan Bima sering melakukan invasi pada kerajaan-kerajaan kecil yang tercatat pada Bo Sangaji Kai “Raja Bima dan Raja Tambora memutuskan bagiannya masing-masing, yaitu 23 perempuan untuk Bima dan dua kali lebih banyak untuk Tambora.”(Hal 45-50).

Raja Abdul Basyir seringkali membawa malapetaka bagi kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa perampasan dan perang yang terus dilakukan oleh kerajaan Tambora waktu itu membuat geram VOC, kerajaan Bima, Dompu dan Pekat sehingga VOC mengirimkan bantuan pasukan Bone yang dipimpin oleh Karaeng Jaranika dan  berperang dengan Tambora Pada tanggal 17 September 1695.

Tahun 1693 raja Abdul Basyir dan Sultan Bima Djamaluddin dituduh oleh Sultan Dompu Abdul Rasul (1697-1718) karena melakukan persengkokolan pembunuhan terhadap istri Sultan Dompu, dan raja Tambora Abdul Basyir di buang ke Afrika Selatan (Cape Town) oleh VOC tahun 1697.


Oleh : Fahrurizki



0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top