Pada 13 Agustus 1697 M di Cape Town (sekarang Afrika Selatan) kedatangan seorang tahanan yang di bawah oleh kapal “Voyage” Belanda berasal dari negeri yang jauh yaitu Tambora yang terletak di pulau Sumbawa, dia adalah Raja Tambora yang bernama Abdul Basyir yang kala itu berumur 28 tahun  dituduh atas berkomplot  melawan Sultan Dompu dan konspirasi membunuh Istri Sultan Dompu.

Saat pertama kali tiba di Cape, Raja Abdul Basyir di tempatkan di sebuah tahanan di tanah perusahaan " Rustenburg " bersama para tahanan Politik lainnya yang berasal dari berbagai wilayah  Hindia Belanda seperti Sultan Ternate, Raja Madura dan tahanan lain dari Makassar. Para tahanan ini di perkerjakan sebagai budak di perkebunan atau ladang milik Hindia Belanda.

Saat menginjakkan kaki di tanah yang asing itu dan jauh dari negerinya, Raja Abdul Basyir menjadi tawanan yang paling menonjol diantara para tawanan dari Batavia karena tangan dan kakinya di belenggu rantai yang memenuhi tubuhnya, yang dimana setara dengan hukuman mati saat itu. Kemudian Raja Tambora itu di tempatkan di kandang yang sangat kotor dan tidur beralaskan kotoran hewan.

Selang beberapa tahun setelah pemindahan tempat tahanannya di " Vergelegen " di kawasan Stellen Bosch, Raja Tambora bertemu dengan Syekh Yusuf asal Gowa yang juga di buang oleh Belanda pada tanggal 2 April 1694 dengan kapal bernama “Voetboeg” 3 tahun sebelumnya. Dari pertemuan mereka, Syekh Yusuf juga membantu memindahkan dari penjara yang tidak lazim itu (kandang kuda) untuk seorang Raja dan bangsawan.

Setelah menjalin hubungan dengan Syekh Yusuf, Raja Abdul Basyir yang dimana sejak memerintah Kerajaan Tambora terkenal dengan Ilmu Agamanya dan hafal Al-Qur`an, di Cape beliau juga banyak belajar dan menimba ilmu agama kepada Syekh Yusuf, setelah cukup lama menetap di Cape Raja Tambora menikah dengan anak Syekh Yusuf  yang bernama Siti Sara Marouf, dari pernikahan ini mereka di karuniai lima orang anak.

Selama di Cape Raja Tambora banyak menulis Al-Qur`an dengan tangannya sendiri sesuai ingatannya, dan Al-Qur`an tulisan tangan Raja Tambora menjadi Al-Qur`an pertama yang ada di Cape Town Afrika Selatan, tetapi kemudian diberikan kepada Van Der Stel Gubernur local Cape sebagai hadiah, kehidupan sang Raja sangat miskin di Cape dengan keadaan ekonomi yang sangat pas-pasan beliau bekerja di perkebunan untuk menghidupi keluarganya.

Tahun 1719 Raja Tambora yang bernama lengkap Raja Abdul Basyir Nilauddin pada umurnya yang ke 51 tahun menghembuskan nafasnya di Cape, dan dikebumikan di sana. Setelah suaminya meninggal, istrinya Siti Sara Maraouf berupaya meminta kepada penguasa Cape untuk kembali ke kampung halamannya Makasar bersama anak-anaknya, permintaannya tersebut di tolak, tahun 1720 Siti Sara Marouf menghembuskan nafas terakhirnya menyusul sang suami.

Raja Abdul Basyir lahir di Tambora pada tahun 1670 M, dan sempat menggantikan ayahnya Raja Djamaludin yang meninggal pada tahun 1687, Raja Abdul Basyir masih mempunyai hubungan darah dengan Kesultanan Gowa dari Silsilah Karaeng Patinngaloang.

Oleh : Fahrurizki


Sumber :
-    www.stamouers.com - terakhir dikunjungi 24 April 2014
-    First Fifty Years - a project collating Cape of Good Hope records - terakhir dikunjungi 24 April 2014
-    Abdul Nasir , SayaAsal Macassar Penerbit Yayasan Obor Indonesia 2005
-    Koresponden Pribadi dengan  Donald Tick (pakar kerajaan Nusantara)

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top