ADS

Kabupaten Bima memiliki catatan emas dalam sejarah penerbangan dunia yang mungkin jarang diketahui publik. Jauh sebelum hiruk pikuk penerbangan modern, wilayah Palibelo telah menjadi saksi bisu keberanian para pionir udara yang menjelajahi rute lintas benua. Dibawah ini penulis akan menguraikan catatan sejarah awal mula Bandara Bima Sultan Muhammad Salahuddin. 

Pendaratan Darurat Smith Bersaudara

Kisah ini bermula pada 9 Desember 1919. Kala itu, Ross Smith dan Keith Smith (yang dikenal sebagai Smith bersaudara) sedang dalam misi besar melakukan penerbangan pertama dari London ke Australia menggunakan pesawat Vickers Vimy. Namun, saat melintasi gugusan Kepulauan Sunda Kecil, kondisi bahan bakar mereka mulai menipis.

Foto Bandara Palibelo Tahun 1921

Berdasarkan instruksi radio terdekat, titik pengisian bahan bakar yang tersedia berada di Bima. Smith bersaudara harus menghabiskan waktu beberapa jam mengitari wilayah udara Bima hanya untuk mencari tempat pendaratan darurat yang aman. Dalam catatan hariannya, Smith menuliskan betapa krusialnya momen pencarian landasan di tengah medan yang belum terpetakan dengan baik tersebut.

Palibelo: Titik Koordinat yang Sempurna

Mata tajam mereka akhirnya tertuju pada bagian selatan tepian teluk. Di sana membentang tanah lapang yang datar dan luas sebuah area yang dinilai sangat tepat untuk bermanuver. Tepat pada pukul 10:00 pagi, pesawat Vickers Vimy tersebut menyentuh tanah Bima untuk pertama kalinya. Mendaratnya Smith bersaudara di tanah Palibelo menjadi momentum bersejarah: pendaratan pesawat pertama di tanah Bima.

Selama di sana, mereka melakukan pengisian bahan bakar yang disediakan oleh BPM (Batavia Petroleum Maatschappij), perusahaan minyak utama di era kolonial yang tangki minyaknya tersimpan di Pulau Kambing. Setelah beristirahat sejenak dan memastikan mesin kembali prima, tepat pukul 13:00 siang, mereka melanjutkan misi terbang menuju Kupang sebelum akhirnya mencapai Australia.

Pendaratan darurat di Palibelo juga dilakukan oleh pilot terkenal dunia lainnya yaitu John Mcintosh tahun 1920. saat pesawatnya harus mendarat terpaksa di Bima untuk mengisi bahan bakar.

Dari Landasan Darurat Menjadi Bandara Kebanggaan

Pilihan Smith bersaudara terhadap tanah Palibelo ternyata bukan kebetulan semata. Lokasi ini terbukti sangat strategis secara aeronautika. Beberapa tahun kemudian, tokoh-tokoh penerbang dunia lainnya turut mengikuti jejak mereka. Tercatat nama Macintosh hingga Amy Johnson, seorang wanita pertama yang terbang solo dari Inggris ke Australia tahun 1930, menjadikan Palibelo sebagai titik singgah wajib untuk mengisi bahan bakar.

Kedatangan Amy Johnson juga bertepatan dengan kelahiran putri kelima Sultan Muhammad Salahuddin, karena melihat kegigihan Amy Johnson adalah seorang penerbang wanita perintis yang pertama dunia, lalu, Sultan memberikan nama Amy kepada putrinya, kisah Siti Mariam kepada penulis tahun 2014.

kemudian pengembangan serius bandara Bima setelah menjadi landasan pacu pesawat peserta lomba the great britain tahun 1920. tahun 1927 pengukuran landasan pacu, hingga kini bandara ini memiliki 1647 meter panjang landasan. Sekitar tahun 1930-an bandara mini untuk pesawat komersil di buka, di kelola oleh KLM atau kadang disebut Royal Dutch Airlines

Seiring berjalannya waktu, tanah lapang yang dulunya dipilih secara darurat oleh Smith bersaudara itu bertransformasi menjadi infrastruktur vital. Kini, lokasi bersejarah tersebut telah berdiri tegak sebagai Bandara Udara Sultan Muhammad Salahuddin. Setiap deru mesin pesawat yang lepas landas dari sana hari ini adalah gema dari keberanian Smith bersaudara yang dimulai lebih dari seabad yang lalu.


Oleh : 

Fahrurizki

Penulis Budaya dan Sejarah



0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top