ADS

Gempuran modernisasi dan perubahan iklim pada dekade ini membawa luka pada alam serta manusia, kondisi alam yang semakin kritis dan mata air banyak yang hilang, bencana ekologis mengintai Bima. Namun ada harapan pada sebuah komunitas masyarakat masih teguh memegang janji leluhur mereka. Mereka adalah Masyarakat Kuta di Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima. Bagi mereka mata air Parafu Mada Tomba adalah sumber air bukan sekadar kebutuhan fisik, melainkan pusat spiritual dan identitas yang wajib dijaga 

Mata air Mada Tomba, adalah mata air utama yang menghidupi Desa Kuta dan sekitarnya. Sejak dahulu kala, sumber air ini telah menjadi penentu keberlangsungan hidup, baik untuk konsumsi, pertanian, maupun ritual adat. Dalam kisah tua masyarakat Kuta, Mada oi Tomba juga mengalir hingga ke daratan telaga renda. 

Mada Oi Tomba Desa Kuta, La Mbitu. (Foto Arif) 

​Ada yang membuat Mada Oi Tomba istimewa adalah nilai historisnya. Dahulu seorang pemburu bernama Ompu Bure melihat kawanan ayam hutan sedang bermain, kemudian Ompu Bure melemparkan tombaknya pada kawanan itu, namun, tombaknya tidak mengenai satupun mangsanya, tombaknya tertancap di tanah, saat dia menarik tombak di tanah, keluarlah semburan air. Maka dinamakanlah mata air tersebut Mada Tomba yang berarti Mata air tombak dan Ompu Bure sebagai pemilik awal Parafu (mata air). 

Masyarakat Kuta meyakini bahwa mata air ini adalah warisan suci yang diberikan oleh nenek moyang mereka. Ada ikatan spiritual yang kuat, di mana keberlimpahan air dianggap sebagai berkah, dan kekeringan adalah tanda teguran atau kelalaian dalam menjalankan amanah. Beruntungnya, hingga kini mata air terus mengalir, karena konsisten masyarakat Kuta menjaga hutan La Mbitu sebagai penyanggah air dan ekosistem. 

​Kearifan lokal Masyarakat Kuta terwujud dalam sebuah sistem pengelolaan lingkungan yang terintegrasi. Mereka sadar betul bahwa untuk menjaga debit dan kualitas air, mereka harus menjaga area resapannya yaitu hutan di sekitar sumber air. Arti Kuta sendiri adalah benteng dikelilingi oleh lima Parafu. 

​Aturan Konservasi komunitas masyarakat Kuta menerapkan aturan yang melarang penebangan pohon secara sembarangan di wilayah hulu atau sekitar mata air. Pelanggar aturan ini tidak hanya dikenai sanksi tapi dianggap sebagai penghinaan terhadap leluhur. Zona Perlindungan masyarakat membagi wilayah hutan menjadi beberapa zona, termasuk area sakral (hutan La Mbitu) yang benar-benar dilarang untuk disentuh aktivitas eksploitasi.

​Gotong Royong perawatan secara berkala, mereka melakukan Karawi Kaboju dan kerja bakti bersama untuk membersihkan dan merawat area mata air dan saluran irigasinya, memastikan bahwa air mengalir lancar hingga ke lahan pertanian warga.

​Kunci keberhasilan konservasi ini terletak pada peran sentral Tokoh Masyarakat atau lebih dikenal dengan istilah Dou Ma tua dan Pemangku otoritas dalam menanamkan nilai-nilai ini kepada generasi muda. Melalui cerita, ritual, dan praktik langsung, anak-anak Kuta diajarkan untuk menghargai air sebagai sumber kehidupan. Mereka dididik bahwa air memiliki roh, dan menjaga hutan sama dengan menjaga diri mereka sendiri. Dengan cara ini, pengetahuan tradisional tentang tanda-tanda alam dan cara pengelolaan sumber daya alam diteruskan dari generasi ke generasi.

​Meski kearifan lokal telah membentengi mereka, tantangan tetap muncul. Pemanasan global, perubahan pola curah hujan, dan tekanan dari luar untuk memanfaatkan sumber daya alam secara komersial menjadi ancaman serius dalam hal ini contohnya penggunaan lahan gunung sebagai lahan menanam jagung.

​Kisah masyarakat Kuta adalah sebuah pengingat yang kuat bahwa pelestarian lingkungan paling efektif sering kali berakar dari nilai-nilai budaya dan tradisi lokal. Mereka membuktikan bahwa kepatuhan pada amanah leluhur adalah cara terbaik untuk menjamin masa depan sumber daya air bagi anak cucu. Mada Oi Tomba terus mengalir, menjadi simbol ketahanan budaya dan konservasi sejati di tanah Bima.


Oleh :

Fahrurizki

Penulis Budaya dan Sejarah



0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top