ADS

Meriam Prancis berjejer dalam posisi siap memuntahkan peluru pada lawannya pasukan Inggris yang berada diseberang bukit pertempuran di Waterloo, diatas kuda putih seorang Kaisar Prancis dengan gagahnya memandang dengan mata yang dingin kearah pasukan Inggris untuk menunggu hujan reda. Dalam hitungan jam hujanpun reda. Pasukan Prancis menghujani batalion Inggris dengan meriam. Gendang perang di tabur, pasukan Inggris dan Prancis mulai saling menyerang satu sama lain. Pertempuran di Waterloo sangat sengit, dua dewa perang saling beradu strategi di medan pertempuran, Napoleon Bonaparte di pihak Prancis dan Duke of Wellington di pihak Inggris bersama koalisi ketujuh kerajaan-kerajaan Eropa.

Narasi diatas dari film besutan sutradara kaliber Ridley Scott dalam filmnya yang berjudul Napoleon, di bintangi oleh aktor kawakan Hollywood Joaquin Phoenix, aktor sukses peraih Oscar dengan perannya sebagai Joker. Ridley Scott dengan baik mengemas dan menggambarkan visual pertempuran Waterloo dengan penuh heroik dan dramatik. Dalam sejarahnya, penulis melihat pertempuran Waterloo adalah pertempuran harga diri kaum bangsawan dan kaum Republikan.

Napoleon Movie (alphacoders.com)

   
Pertempuran Waterloo bukan hanya sebuah pertempuran militer, namun juga pertempuran antara isme Republik Prancis dan monarki koalisi ketujuh kerajaan-kerajaan Eropa yang merasa terancam oleh efek revolusi Prancis. Napoleon adalah simbol mewakili Liberte (kebebasan) menunjukkan pada Eropa bahwa Republikanisme lebih kuat dibanding kekuatan kaum Aristokrasi (monarki). Kerajaan-kerajaan Eropa merasa terancam oleh Republik, Monarki yang mereka warisi selama ratusan tahun terancam akan sirna ditiup angin kebebasan. Ambisi seorang Napoleon harus dihentikan di pertempuran Waterloo yang terjadi pada 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo, Brussels.

Inggris dan sekutunya harus sekuat tenaga, berpikir keras untuk menghentikan ambisi Napoleon menguasai dataran Eropa. Kaum darah biru di Eropa merasa terancam, mereka tidak ingin nasibnya seperti Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette yang dipenggal kepalanya atas nama Republik. Keinginan mereka mengalahkan Napoleon dengan segala macam upaya. Pertempuran Waterloo adalah jawaban untuk menghalau angin perubahan yang dibawa oleh pasukan Prancis. Pertempuran Waterloo juga pertempuran terakhir bagi seorang Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, dimana dia menelan kekalahan yang juga harus menurunkan tahtanya sebagai Kaisar Prancis. Kelihaian dan kecerdasan strategi perang yang dikuasai oleh seorang Napoleon harus gagal akibat cuaca yang tidak bersahabat.

Hujan lebat membasahi medan pertempuran di Waterloo, hujan yang tidak seperti biasanya, sangat begitu lama, dingin dan lembab membuat semua artileri Napoleon terjebak dalam lumpur, cuaca yang disebabkan oleh letusan sebuah gunung di timur hingga membuat separuh Eropa krisis pangan akibat cuaca yang memburuk. Kesialan yang dialami oleh Napoleon di Waterloo juga di alami oleh dua kerajaan yang jauh jaraknya ribuan kilometer di timur Hindia, dua kerajaan tersebut adalah kerajaan Pekat dan kerajaan Tambora, keduanya tertelan oleh amukan alam yang dahsyat yaitu letusan gunung Tambora tahun 1815.

Tambora bukan hanya menghentikan Napoleon sebagai Kaisar Prancis, juga menghentikan dua Raja di Semenanjung Sanggar berkuasa. Kerajaan Tambora salah satu kerajaan yang mempunyai hegemoni besar di semenanjung Sanggar, kekuatan militernya sangat kuat. Ekspansi militer terhadap kerajaan-kerajaan tetangganya sering kali dilakukan, menjarah dan mengambil rakyat kerajaan lain untuk dijadikan budak dan menjualnya. Kesultanan Dompu sering kali kewalahan berhadapan dengan kerajaan Tambora, perang antara keduanya menjadikan mereka musuh bebuyutan. Salah satu Sultan Dompu harus mati di tangan seorang panglima perang Tambora.

Akibat kerajaan Tambora sering melakukan ekspansi, Dompu membuat benteng di perbatasan pekat yang diberi nama Kempo. Sultan Dompu mendatangkan pasukan bayaran dari Sulawesi untuk bermukim di Kempo, pasukan bayaran itu disuruh hidup Kamuflase sebagai rakyat, tujuannya untuk menahan kedatangan pasukan Tambora yang sering kali datang menjarah manusia.

Kerajaan Tambora acap kali menyulut peperangan di Pulau Sumbawa. Kerajaan yang sangat ambisi sama halnya dengan seorang Napoleon yang berambisi menguasai dataran Eropa. Ambisi keduanya juga harus berakhir bersamaan pada tahun 1815, di akhiri oleh letusan gunung Aram atau Tambora yang dahsyat. Raja terakhir kerajaan Tambora yang bernama Abdul Gafur lenyap dengan ambisinya untuk menguasai dataran semenanjung Sanggar, begitupun ambisi Napoleon Bonaparte yang ingin menguasai dataran Eropa juga harus berakhir, Tuhan berkehendak lain pada ambisi keduanya, dan takdir mereka harus kalah pada gunung Tambora. 


Oleh : Fahrurizki
Penulis Sejarah & Budaya Bima



0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top