ADS

Di sudut tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Oi Mbo, Kota Bima, di mana terik matahari seringkali menyapa lebih awal dengan hangatnya dan sedikit aroma sampah, di tengah hamparan sampah kemarin (11/04/2026), peserta Ecowomen Class & Eco-Gardensebuah gerakan kecil mulai tumbuh dari balik rimbunnya rak buku. Komunitas Taman Literasi tidak lagi hanya bicara tentang mengeja huruf atau membedah novel, melainkan beralih ke narasi yang lebih mendesak yaitu Kedaulatan Ekologis.

Melalui inisiatif terbaru mereka, komunitas ini menyasar jantung rumah tangga yaitu kaum perempuan untuk menjadi garda terdepan dalam edukasi pengelolaan sampah perkotaan. Menjadi pertanyaan mengapa harus perempuan?

Kampanye Bebas Sampah Taman literasi (Foto Mbojoklopedia) 

Dalam struktur sosial masyarakat Bima, perempuan khususnya ibu rumah tangga, adalah "manajer logistik" keluarga. Merekalah yang memutuskan apa yang dibeli, apa yang dimasak, dan akhirnya, apa yang dibuang.

"Mengedukasi satu perempuan sama dengan menyelamatkan satu ekosistem dapur. Jika ibu-ibu di Kota Bima paham cara memilah sampah, maka beban TPA (Tempat Pembuangan Akhir) kita akan berkurang drastis," ujar Rimawan salah satu penggerak Taman Literasi.

Rimawan menegaskan lagi bahwa program ini dari segi keberlanjutan, sampah-sampah yang telah diolah akan menjadi produk yang dapat diaplikasikan ke dalam Eco-Garden, atau poduk ekonomi sirkular serta menjadi program yang dapat direpllikasi untuk RT/RW/Kelurahan/Kecamatan lainnya. Agar sampah tidak harus berakhir di TPA, tapi diolah di rumah tangga masing-masing. 

Program edukasi ini tidak dilakukan secara kaku di dalam kelas, melainkan melalui pendekatan Literasi Lingkungan yang interaktif, dimana peserta Ecowomen Class langsung belajar di tempat pembuangan sampah itu sendiri, mereka bisa langsung menyaksikan cara pengelolaan sampah dan manfaat sampah yang di fasilitasi oleh karyawan TPA Oi Mbo itu sendiri. 

Tahapan kelas ini mengedukasi peserta melalui pemahaman 'Dapur Minim Sampah' Para peserta diajarkan cara mengolah sisa sayuran menjadi Eco-Enzyme atau kompos cair, ketimbang membuangnya ke selokan yang berisiko menyumbat aliran air saat musim hujan kata Yudonk. 

Yudonk sedang menjelaskan proses pengolahan sampah organik menjadi kompos. 
Tumpukan sampah di TPA Oi Mbo yang sudah menjadi konsumsi hewan ternak

Kemudian Yudonk mengajak peserta di ruang pojok kreasi daur ulang, dimana ruang tersebut mengubah limbah plastik kemasan menjadi barang bernilai guna seperti menghasilkan gas petasol atau pot tanaman, yang sekaligus melatih keterampilan tangan, ujar Yudonk. 

Sambil berdiskusi bertema lingkungan, peserta diajak berdiskusi tentang dampak sampah plastik terhadap kelestarian Kota Bima di ruang kantor TPA. Kota Bima memiliki karakteristik geografis yang unik sekaligus rentan. Sebagai kota tepian air, pengelolaan sampah yang buruk berdampak langsung pada kualitas air laut dan kesehatan masyarakat.

Masalah utama yang di hadapai oleh Kota Bima adalah Sampah, namun, tata kelola Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang tidak cukup serius, itu bisa dilihat dari banyak fasilitas pengolahan sampah tidak jalan di workshop TPA. Kurangnya sosialisasi untuk mengedukasi masyarakat. Kemudian kurangnya sarana pemilahan sampah di tingkat lingkungan. Paradigma lama bahwa sampah adalah kesadaran masyarakat semata. Ketergantungan tinggi pada plastik sekali pakai di pasar-pasar kota Bima. 

Perlahan tapi pasti, gerakan ini mulai bergerak. Taman Literasi telah membuktikan bahwa buku hanyalah pintu masuk. Tujuan akhirnya adalah menciptakan warga kota yang kritis dan peduli. Di tangan perempuan Bima, sampah bukan sekadar berakhir di tempat pembuangan, melainkan kemampuan untuk mempercantik "wajah" masa depan kota yang lebih bersih dan hijau untuk generasi mendatang.

Besar harapan dari Taman Literasi Kota Bima bahwa program ini menjadi salah satu solusi untuk sama-sama mewujudkan Bima yang lebih peduli terhadap kesehatan dan keberlanjutan lingkungan, dimana Program ini membuka peluang sponsor dan kolaborasi seluas-luasnya, ujar Rimawan. 


Oleh :

Fahrurizki

Penulis Budaya & Sejarah




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top