Falsafah Bima (Mbojo) bukan sekadar deretan kata puitis atau roman yang terlahir dari fantasi, melainkan sebuah kompas moral yang mengarahkan kehidupan mendalam. Salah satu kutipan dari leluhur Bima yang paling menggugah kesadaran kolektif adalah "Tohompara Nahu Sura Dou Labo Dana". Secara harfiah, ungkapan ini bermakna "Biarlah saya yang berkorban, demi rakyat dan negeri." Namun, jika kita bedah lebih dalam, ungkapan ini merupakan manifestasi tertinggi dari konsep Intelektual Organik yang bersenyawa dengan Kedalaman Spiritual.
Jejak petuah leluhur Bima menyimpan makna yang sangat penting, mengkristal dalam perjalanan intelektual Orang Bima. Menjadi warisan yang sangat berharga bagi rakyat dan bangsa. Petuah Leluhur (Falsafah) memperluas kesadaran pribadi dan memungkinkan manusia untuk merenungkan nilai-nilai untuk tujuan hidup dan kebermaknaan.
![]() |
| Masyarakat Mbawa Donggo Tahun 2012 (Sumber Mbojoklopedia) |
Bima dalam dekade ini perlu adanya konstruksi sosial yang tepat, perlu ada petuah yang mumpuni untuk membentuk lagi intelektualitas masyarakat, oleh sebab perlu kita mengembalikan lagi nilai-nilai dahulu yang sukses mendampingi kehidupan orang Bima dahulu.
Sura Dou Labo Dana Representatif Intelektual Organik
Dalam teori Antonio Gramsci, intelektual organik adalah mereka yang tidak hanya berpikir di balik meja, tetapi menyatu dengan denyut nadi masyarakatnya. Mereka memahami penderitaan rakyat karena mereka ada di dalamnya. Membentuk masyarakat yang literal dan mampu bersaing di era globalisasi yang penuh kegombalan.
Keberpihakan kalimat Sura Dou Labo Dana menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan jabatan bukanlah alat untuk pengayaan pribadi, melainkan instrumen pembebasan sosial. Kondisi intelektual Bima bagaikan menara gading. Tanggung jawab moral seorang intelektual Bima (Patarasa) dituntut untuk menjadi "penyambung lidah" dan "benteng pertahanan" bagi kaum yang lemah.
Dimensi Spiritual: Pengorbanan sebagai Ibadah
Frasa Tohompara Nahu (Biarlah Saya) mencerminkan sikap Ego Transendensi pada kemampuan seseorang untuk melampaui kepentingan diri sendiri. Ikhlas dan Tawakal Ini adalah bentuk kepasrahan kepada Tuhan bahwa keselamatan publik jauh lebih mulia daripada keselamatan individu. Menurut Imam Al Ghazali akibat ulah Ulama dan Penguasa (Intelektual) dengan nasehat yang terkenal dalam karyanya "Ihya Ulumuddin" dengan pernyataan; “Fasadul ra’yati min fasadul muluk wa fasadul muluki min ulamaissyu’,”. Artinya, rusaknya rakyat adalah karena rusaknya pemimpin, dan rusaknya pemimpin itu adalah dari ulama yang buruk (suuk).
Kepemimpinan Profetik seperti para nabi, seorang pemimpin atau intelektual harus siap menghadapi kesulitan (Tohompara) asalkan umat atau rakyatnya mendapatkan kemaslahatan. Ada beberapa point dalam memahami Tohompara Nahu Sura Dou Labo Dana untuk membentuk kembali nilai dan norma masyarakat, yaitu :
- Dimensi Manifestasi "Dou" dalam Falsafah Pikiran (Intelektual).
- Mencari solusi kreatif agar "Dana" (Bangsa) tetap lestari dan maju.
- Jiwa (Spiritual) "Sura" membersihkan niat dari keserakahan; siap menderita demi prinsip kebenaran.
- Sosial (Organik) menghapus jarak antara pemimpin dan rakyat; menyatu dalam nasib yang sama "Dou Labo Dana. "
Relevansi di Era Modern Bima yang Carut Marut
Di tengah krisis integritas saat ini, falsafah ini menjadi teguran keras bagi para cerdik cendekia. Seringkali, intelektualitas disalahgunakan untuk melegitimasi kebijakan yang merugikan rakyat demi keuntungan pribadi.
"Tohompara Nahu Sura Dou Labo Dana" mengajarkan bahwa:
Gelar dan Kepangkatan tidak ada artinya jika rakyat tetap lapar. Keberanian adalah syarat utama seorang intelektual; berani berkorban waktu, tenaga, bahkan reputasi demi membela keadilan. Spiritualitas bukan hanya soal ritual di tempat ibadah, melainkan bagaimana kita memanusiakan manusia di ruang publik.
Menjadi intelektual organik dan spiritual ala Mbojo berarti siap menjadi "lilin" membakar diri sendiri untuk menerangi sekitar. Inilah esensi sesejati dari pengabdian. Ketika seseorang telah memegang prinsip ini, maka setiap langkahnya tidak lagi didorong oleh ambisi, melainkan oleh cinta yang mendalam kepada rakyat dan tanah air.
Oleh :
Fahri rizki
Penulis Sejarah & Budaya

0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar