Kampung Benteng salah satu kampung tua yang berada di bagian barat Kota Bima, masuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Melayu, Kecamatan Asakota. Kampung Benteng mempunyai sejarah panjang mengenai kolonial di pulau Sumbawa. Mulai dari berdirinya pada abad 18, hingga kini kampung Benteng tetap sekokoh namanya seperti Benteng, walaupun acap kali dengan pemberitaan yang miris. Untuk memasuki jantung kota, akan melewati kampung ini.

Bukan hanya soal Belanda, kampung Benteng adalah simbol kemajukan masyarakat urban kota Bima, beragam etnis sudah hidup di kampung tersebut sejak masa lampau, mulai dari kaum Eropa, Arab, Melayu, Bugis, Makassar, Timur (Sabu, Sikka, Ende, Reo, Manggarai, Sumba dan Kupang), hingga etnis Tionghoa. Oleh masyarakat Bima penyebutan untuk etnis-etnis tersebut mempunyai nama masing-masing, untuk orang Eropa disebut Dou Bari (Belanda), Dou Cina (Tionghoa), Dou Habe (Arab), Ince (Melayu), Dou Gowa (Makassar dan Bugis) dan Dou Ta Ele istilah untuk keseluruhan orang-orang yang berasal dari timur. 

Foto depan Benteng Wolanda (Belanda) tahun 1882 (sumber : Guillermard)

Bukan hanya ragam etnis yang hidup di kampung Benteng, juga ragam agama berkembang saling berdampingan, mulai dari Islam, Katolik, Protestan hingga Budha. Agama Islam memang sangat mendominasi di benteng karena banyaknya pendatang Arab dan Melayu yang sejak dulu berdagang di Bima, untuk agama Budha biasanya di anut oleh etnis Tionghoa, sedangkan Kristen hanya berkembang pada keluarga dari Timur dan kaum Eropa. 

Letak kampung Benteng sangat strategis, daerah pesisir memang sangat tepat untuk bermukim para pedagang yang datang dari berbagai pulau dengan kapal. Sebelah timur kampung Benteng ada Kampung Sarae dimana terdapat Oi Pompa (air pompa) tempat untuk persediaan air bersih pemukiman didalam benteng. Sebelah selatan benteng terdapat kampung Sumbawa dimana dahulunya merupakan hunian para pedagang Jawa, Bali dan Madura. Dahulu kampung Sumbawa disebut kampung Bali. Letak kampung Sumbawa bersebalahan dengan Benteng hanya dipisahkan oleh sungai “Nanga Romo” yang megalir ke teluk Bima. Kapal-kapal pedaganag bisa masuk di Nanga Romo untuk mengisi air bersih di Oi Pompa atau bersandar untuk melindungi kapal dari angin.

Depan benteng terdapat pelabuhan bernama Lawa Duwe, mulai pesisir selatan hingga utara sungai “Nanga Melayu”. Pelabuhan Lawa Duwe merupakan sentral perdagangan untuk Bima wilayah Rasanae (Ibukota). Depan Benteng juga terdapat sebuah posthouder Hindia Belanda sebagai pos penjaga di mulut sungai untuk memantau kapal-kapal yang datang mengambil air di kampung Sarae. Mulut sungai Nanga Romo adalah sebuah rawa besar yang sebelah kananya kemudian oleh masyarakat Nasrani dijadikan sebagai kuburan, berbicara soal kuburan, nama kampung ini juga akan bersinggungan dengan kuburan Belanda atau masyarakat sekitar menyebutnya “Rade Belanda,” kuburan yang sudah ada semenjak kampung tersebut berdiri. Namun dahulu samping sungai memang sudah ada kuburan orang-orang Hindu yang sudah ada sejak zaman Majapahit.

Sejarah Awal Kampung Benteng

Awal mula terbentuknya kehidupan masyarakat urban di kampung Benteng, dimulai dari awal kontrak Kesultanan Bima dan Belanda. Dalam beberapa sumber mengatakan Belanda mulai membangun benteng sejak dimulainya kontrak pada tahun 1669 masehi, dimana benteng merupakan tempat tinggal Fetor (jabatan kepala Belanda) beserta serdadunya. Dalam manuskrip Kesultanan Bima, Fetor yang pertama tinggal di Benteng adalah Willem Eykman bertugas pada tahun 1687 (lihat Bo Sangaji Kai).

Setelah benteng selesai dibangun dan meriam dipasang, kemudian menjadi kampung hunian orang-orang Belanda, oleh orang Bima menyebutnya Kampung Wolanda. Pada 1208 Hijiriyah atau tahun 1788 Masehi, Sultan Abdul Hamid memberikan kekuasaan pada masing-masing kepala etnis untuk mengurus komunitasnya, sedangkan untuk kampung Wolanda, Bugis dan Melayu, sultan menyerahkannya kedalam perintah Fetor (lihat Bandar Bima).

Dalam catatan Tome Quinzieme, seorang apoteker asal Prancis saat lawatannya di Bima tahun 1870 yang tertulis dala bukunya berjudul Medecine Navale. Sebelah kampung Wolanda pada saat itu hanya ada dua kampung yaitu kampung Bugis dan Melayu. Kampung Wolanda dikelilingi oleh tembok persegi yang tinggi, sekelilingnya terdapat parit, juga dipasang delapan meriam, dan sekitar Benteng tinggal pemukiman para pegawai kesultanan, tulisnya.

Foto komplek Benteng saat tim ekpedisi Siboga berkunjung tahun 1899 bersama sersan Belanda dan pasukannya (sumber Tropen Museum).

Pada tahun 1877 era Sultan Abdul Aziz, komunitas masyarakat peranakan (pendatang) atau dalam bahasa Bima disebut “Paranaka” dikepalai oleh masing-masing tetua dari etnis mereka, dalam catatan peneliti militer Belanda bernama Doktor Hollander dalam bukunya Handliding Bij de Boefening der Land en Volkenkunde van Nederland Oost Indie, untuk Kampung Wolanda (Belanda) dikepalai oleh seorang berpangkat Kapten. Sedangkan masyarakat Bugis dikepalai oleh seorang tetua yang disebut Matoa. Juga kampung Melayu dikepalai seorang tetua yang dipanggil Penghulu. Kecuali untuk kampung Bali (sekarang kampung Sumbawa) ada dibawah otoritas perintah Syahbandar Bima.

Kampung Wolanda Menjadi Kampung Benteng

Dalam catatan Coft seorang Botanis yang berkunjung di Bima sekitar tahun 1880, di dalam Benteng tinggal seorang sersan, seorang kopral, dan 15 serdadu pribumi. Lima belas tahun kemudian tepatnya tahun 1895 seorang pelancong bernama Asselberg menyebutkan penghuni Benteng itu ada 2 orang jerman dan 1000 orang serdadu pribumi (lihat Kerajaan Tradisional di Indonesia : Bima).

Pertigaan rumah Haji Yasin, lokasi Benteng Belanda dahulu (sumber : mbojoklopedia).
 

Kampung Wolanda semakin berkembang dan areal dalam benteng semakin sempit, wilayah pemukiman kampung Wolanda diperbesar disepanjang pesisir sebelah selatan dan utara benteng. Pada bagian timur benteng dibangun sekolah ELS (Eurospeech Lagere School) diperuntukkan bagi anak-anak eropa yang tinggal dikampung Wolanda. Setelah kemerdekaan Indonesia dan tahun 1953 sekolah ELS dijadikan Sekolah Dasar Negeri 1 Bima. Setelah didirikannya sekolah ELS, lalu sekitar tahun 1900 Hindia Belanda membangun sekolah Volkschool (sekolah rakyat) disebelah selatan benteng, Volkschool tersebut diperuntukkan bagi anak-anak peranakan tionghoa, bugis, melayu dan pribumi untuk bersekolah, kemudian berubah menjadi Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Tahun 1908 Volkschool dijadikan barak sementara untuk pasukan marsose yang datang dari Makassar, saat terjadi perlawanan rakyat Bima pada Hindia Belanda.

Dalam dekade akhir abad 19, bersamaan didirikannya juga hunian kota modern kaum Eropa di Raba menjadi kampung Belanda (Wolanda) kedua, dan kampung Wolanda dipesisir lambat laun oleh pemerintah Kesultanan Bima mengubah nama kampung tersebut menjadi Kampung Benteng yang masuk dalam distrik Rasanae. Pada tahun 1970 kampung Benteng masuk dalam wilayah kelurahan Melayu hingga kini. Kini bangunan benteng wolanda tersebut sudah ditutupi oleh pemukiman warga yang letaknya mulai disebelah utara SMK 1 Kota Bima. Sisa-sisa terowongan dan batu bata dari Benteng bisa dilihat dari lahan bengkel Mandala dan kediaman keluarga Haji Yasin.

Hingga kini masyarakat Timur yang disebut Dou Ta Ele dan peranakan Tionghoa Dou Cina, sudah hidup turun temurun sebagai Orang Bima dan juga bisa melaksanakan ibadah mereka di dua Gereja yang dibangun pada rentang tahun 1970-an dan 1990-an di sekitar kampung Benteng, yang dulunya mereka hanya bisa melaksanakan ibadah di Raba. Ragam etnis tersebut sudah melebur kedalam tatanan sosial masyarakat Bima dan kinipun mereka fasih menggunakan bahasa Bima.

 

Oleh : Fahrurizki  (Pengamat Sejarah & Budaya Bima)

 

 


Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

6 comments Blogger 6 Facebook

  1. makasih bang utk tetap selalu Mengingatkan Kita pada Sejarah,, (Jasmerah)

    ReplyDelete
  2. 🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽🙏🏽

    ReplyDelete
  3. Mantap luar biasa n terimaksih sungguh sejarah n pemaparan yg keren

    ReplyDelete
  4. Saya yg tinggal di kampung benteng baru tau sejarahnya, dan sekarang sudah tinggal di kampung Sarae dekat oi pompa depan kali yg berdapan kampung benteng. ������

    ReplyDelete
  5. Terima kasih untuk pencerahannya. Baru tau ttg sejarah kampung kelahiranku..

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top