Konon kabarnya menurut cerita (Mpama) yang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi oleh masyarakat setempat menyatakan bahwa nenek moyang atau leluhur (Ompu ro Waro) mereka berasal dari suatu negeri yang jauh. Dan mula pertama mereka mengetahui hal itu karena dalam cerita tersebut menerangkan bahwa ada empat orang keturunan raja-raja yang berasal dari negeri yang sangat jauh itu yang telah sepakat hendak mencari (ngupa ro palingaku) sisa-sisa peninggalan kerajaan leluhurnya yang telah lama musnah. Cerita itu menyebutkan bahwa negeri yang jauh itu, itulah Pulau Sumatera sekarang ini. Sedangkan keempat orang anak tersebut masing-masing bernama Sang Kula yang tertua, kemudian berturut-turut Sang Bima, Sang Dewa dan Sang Jin yang paling kecil.

Dalam upaya mereka mencari sisa-sisa peninggalan kerajaan para leluhurnya, mereka menggunakan sebuah perahu molek yang berwarna kuning (Lopi Monoa). Perjalanan mereka memakan waktu yang cukup lama, sehingga di suatu waktu sampailah mereka di suatu pulau untuk kemudian singgah di situ beberapa bulan lamanya. Hanya saja, mereka singgah di situ sebenarnya bukanlah kemauan mereka sendiri. Tetapi atas permintaan petugas keamanan kerajaan, demi memenuhi perintah permaisuri (Ina Ka`i) dari kerajaan pulau tersebut.

Dua paragaraf di atas adalah kutipan dari sebuah makalah ilmiah yang terbit sekitar tahun 1982 oleh Drs Abdul Malik Hasan yang berjudul "Memikirkan Makna Dompu Dalam Rangka Mencari Identitasnya". Dalam makalah ini menggunakan metode folklore atau cerita rakyat (tradisi lisan) dalam masyarakat Dompu. Cerita rakyat tersebut sangat menarik dimana kisah-kisah awal mula para raja Dompu dikisahkan berasal dari para Pandawa yang datang dari Sumatera.

Patung para Pandawa, Sang Bima, Nakula, Arjuna dan Sadewa,  Ukiran di Kuil Dasavatar, Deogarh, India. (Wikipedia)


Kisah tersebut didapatkan oleh Drs Abdul Malik Hasan dari wawancara dengan seorang tokoh masyarakat Dompu yang bernama Haji Muhammad Ali Kamaluddin yang berasal di desa Kandai Dua. Bagi penulis menariknya dimana saduran cerita rakyat tersebut sangat kental akan pengaruh cerita rakyat Jawa yaitu para Pandawa, namun para pandawa tersebut berasal dari Sumatra. Haji Muhammad Ali Kamaluddin sendiri pada tahun 1953 adalah pendamping guru besar UI (Universitas Indonesia) yang bernama Profesor Held yang datang ke pulau Sumbawa meneliti naskah dan sejarah.

Dalam hal ini kisah diatas jika dipandang sebagai sebuah cerita rakyat pinggiran, rasionalitasnya sangat jauh akan nilai dari sejarah, namun jika kita melihatnya dengan kacamata sastra akan menghasilkan sebuah saduran yang menarik dan unik, kita bisa melihat bagaimana pengaruh sejarah Jawa dan Sumatra (Melayu) sangat berpengaruh pada tradisi lisan masyarakat lokal di Dompu antara Hindu dan Islam.

Tidak hanya saduran diatas mengenai asal usul para Raja Dompu dari cerita rakyat, juga dikisahkan raja Dompu yang pertama berasal dari Tulang Bawang. Kisah ini lebih menarik lagi dimana kita mengetahui bahwa kerajaan Tulang Bawang salah satu kerajaan yang pernah berdiri di Lampung (Sumatera). Setelah kerajaan Sriwijaya muncul, kerajaan ini lenyap secara misterius. Seorang ahli sejarah Dr. J.W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan ini terletak di sekitar hulu Way Tulang Bawang yaitu antara Manggala dan Pagardewa dalam radius 20 km.

Menurut cerita rakyat, di negeri Woja berkuasa seorang Ncuhi bernama Sang Kula yang mempunyai seorang putrid bernama Komba Rame. Ncuhi ini kemudian terkenal dengan nama Patakula. Pada saat itu terdamparlah putra raja Tulang Bawang di daerah Woja yang sengaja mengembara di daerah bagian Timur. Putra raja Tulang bawang ini kemudian oleh Ncuhi Patakula dikawinkan dengan putrinya dan para Ncuhi sepakat untuk menobatkan putra raja Tulang Bawang ini menjadi raja Dompu yang pertama (Depdikbud : 1977 : 21-22).   

Antara kisah asal muasal raja Dompu dari cerita rakyat Tulang Bawang dan saduran Haji Muhammad Ali kamaluddin mempunyai kesamaan yaitu berasal dari Sumatera, namun pengaruh sastra jawa pada saduran keduanya sangat kental. Bisa dilihat dari nama-nama tokoh yang dikisahkan yaitu dari karya sastra Hikayat Pandawa Lima.

Lain halnya dalam kacamata Filologi dan sejarah mengenai asal usul Raja-raja Dompu, dalam penelitian Profesor Held yang termuat dalam bukunya yang berjudul Held`s History of Sumbawa An Annotated Translation, bahwa raja pertama Dompu yang bernama Indera Kumala atau Batara Dompu adalah anak dari Batara Bima raja ketiga dari Kerajaan Bima.

Juga dari Translit naskah silsillah dari Bima oleh alih aksara (Filologi) Aliuddin Mahyudin, dimana nasakah yang di tulis oleh seorang juru tulis bernama Muhyddin, yang diperkirakan di kerjakan pada abad 19. Dalam translit Aliuddin menulis Raja Batara Bima yang dikukuhkan sekitar tahun 1270 hingga masa kekuasaan berakhir tahun 1300 masehi. Adapun naskah silsillah dari Bima sebagai berikut :

“Maka Batara Bima beranak lima orang, empat laki-laki, satu perempuan, Pertama menjadi raja di Dompu, dan kedua menjadi raja di Bolo, dan ketiga orang yang duduk di Waki, ialah memegang perapo kini dan perapo kelpie,”.


Oleh : Fahrurizki


0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top