Setelah letusan Tambora 1815, semua mata dunia tertuju pada pulau kecil di timur Nusantara, Pulau Sumbawa khsususnya Semenanjung Sanggar. Dari berbagai peneliti semuanya membicarakan efek dari letusan tersebut, ialah seorang Gubernur Hindia dari Inggris bernama Thomas Stamford Raffles dari info seorang Letnan bernama Owen Philips, sang gubernur mencatat dalam bukunya The History of Java mengenai letusan tersebut. Kemudian Roorda Eysinga seorang veteran perang Waterloo yang penasaran dengan abu yang turun di medan perang saat itu hingga membuat kekalahan Perancis merasa tertantang untuk mencari tahu asal abu tersebut. 

Heinrich Zollinger (1818-1859).

Dalam bukunya Handboek der Land en Volkenkunde, Geschied, Taal, Aardrijks en Staatkunden Van Nederlandsch Indie. Eysinga mencatat bagaimana kondisi kerajaan-kerajaan di pulau Sumbawa paska letusan Tambora dan diapun menemukan sebuah catat dari seorang bangsawan Makassar sebuah kisah Tambora yang dilaknat karena mebunuh seorang ulama arab karena mengusir anjing Raja.

Adalah Heinrinch Zollinger pendaki pertama Tambora paska letusan tahun 1815. Zollinger seorang ahli Botani dari Swiss, pada tahun 1842 dia datang ke Jawa dan bekerja di kebun Botani. Lalu tahun 1847 dengan biaya dari pemerintahan Hindia Belanda dia melakukan ekspedisi ilmiah ke Pulau Sumbawa untuk meneliti Tambora. Dalam bukunya Ascent of the Volcano Tambora on Sumbawa island and Depiction of the Eruption of the year 1815 (Terjemahan bahasa Inggris), Zollinger mengisahkan perjalanan dan pendakian pertamanya di Tambora, dari flores dia berlayar ke Bima pada bulan Juli tahun 1847, kisah tersebut sebagai berikut :

Akan bertemu dengan sultan dijadwalkan pukul 6 sore. Di rumah Gezaghebbers (Pejabat Belanda di alun - alun) mengumpulkan warga kota Bima yang terhormat, sekitar 10 orang di wismanya, semua dalam jubah mereka yang paling indah, sebagian masih dalam warna hitam dan dalam topi dari abad terakhir. Segera tiba kereta yang dikirim dari "istana" sultan. Orang-orang berjalan kaki dan menunggang kuda, setengah telanjang dan mengenakan jubah terbang berwarna-warni, dengan belati atau tombak, atau (beberapa dengan senjata bersenjata) memukul gendang, atau memainkan segala macam instrumen, kebanyakan seperti mangkuk, diikat di atas tali.

Sebelum menuju Tambora Zollinger terlebih dahulu bertemu dengan Sultan Bima yang pada tahun 1847 adalah Sultan Ismail (1817-1854). Dengan membawa surat pengantar  dari Gubernur Hindia Belanda, Zollinger disambut dengan baik oleh kesultanan Bima dengan sambuta 21 kali tembakan meriam. Kemudian Zollinger melanjutkan perjalanannya menuju Dompu dan Sanggar.

Pada bulan Agustus saya meninggalkan Bima dan pindah dari teluk  dengan nama yang sama. Saya berhenti di Dena untuk bermalam. Saya menyeberangi gunung ke Dompo, nama ibukota kerajaan, di mana seorang Sultan yang baik hati menerima saya dengan ramah. Pada tanggal 7 Agustus saya melanjutkan perjalanan ke Sanggar, dari mana kereta menuju pegunungan Tambora harus dimulai. Sanggar dulunya satu kerajaan kecil, yang sepenuhnya dikuburkan dan dihuni setelah letusan 1815. Hanya beberapa tahun yang lalu, sebuah desa telah terbentuk kembali, yang mungkin disebut Kore atau Kumpassi. Namun, ia memiliki pangeran (Raja), yang saat itu masih bocah berusia dua belas tahun. Saya salah dengan Reichsvezier (Raja Bicara), seorang lelaki kecil informal yang lebih tua, dan mengatakan kepadanya bahwa saya mandek bertekad untuk mendaki gunung. Butuh banyak upaya untuk menenangkannya dan menaklukkannya untuk membantu saya. Dia mengklaim bahwa hidup saya menanggung risiko dan bahwa dia tidak bertanggung jawab untuk itu. Akhirnya aku memberitahunya: maka aku akan mencobanya sendiri.

Dalam catatannya Zollinger sempat putus asa dengan pendakian tersebut beberapa timnya mengalami demam, sebelumnya ketika di Bima dari cerita bahwa Tambora sangat susah mendapatkan air, juga gunung tersebut dihuni oleh roh-roh jahat. Namun tekad Zollinger untuk menaklukkan Tambora sudah bulat dan dia akan mendaki gunung tersebut. Pendakian mereka menggunakan jalur bagian timur sanggar yaitu di Piong.

Tanggal 9 Agustus kami mulai jam 6 pagi. Saya harus meninggalkan juru masak dan seorang pelayan yang demam. Saya dengan pelayan 14 orang berkuda bersama saya, Radja bitjara dengan rombongannya, juga 10 pembawa barang, jadi kami bersama-sama lebih dari 40 pria kuat, dan hampir sebanyak yang bisa dikerahkan seluruh kerajaan. Kemudian kepala Kumpassi memberkati kami dalam perjalanan itu. Meskipun demikian, teman saya tidak dalam suasana hati yang bahagia, karena mereka tidak berpikir apa-apa selain itu tak terhindarkan Untuk pergi menuju kehancuran.

Berbagai kesulitan dihadapi oleh tim Zollinger, haus dan lapar menyerang mereka, hingga ada beberapa anggotaanya harus ditinggalkan didalam hutan Tambora akibat kelaparan dan kelelahan. Anggota tim yang tersisa melanjutkan mendaki, tekad Zollinger untuk mencapai puncak sudah didepan mata, karena keinginannya yang besar untuk mencapai puncak, diapun dianggap tukang sihir oleh anggota timnya dari Sanggar, kemudian pada tanggal 11 jam 6 pagi mereka melanjutkan mendaki.

Tetapi di matanya aku adalah tukang sihir, santo, penyembah Tuhan yang tidak dapat ditarik kembali (orang kramat). Tepat pada jam 2 kita mencapai titik paling timur tertinggi, di Sanggar pada umumnya Gunung (gunung) Disebut triding. Saya tidak menyangkal bahwa perasaan gembira pun menyenangkan saya, sepertinya saya, orang pertama sejak Erupsi yang mengerikan, meletakkan kaki di atas gunung, telah mencapai keberhasilan dengan penuh penderitaan. Tetapi anggota saya ketakutan yang tak terkatakan mereka sulit percaya apa yang mereka lihat, mereka tidak berani bolak-balik memohon padaku untuk tidak membangunkan atau bahkan menantang roh gunung.

Pemandangan di tingkat tertinggi dan mengesankan. Awan tebal menggantung di sekitar wilayah tengah gunung, dan bahkan turun hujan di kedalaman. Dimana dia Semuanya begitu suram sehingga hampir tidak mungkin untuk membedakan antara laut dan darat. Hanya untuk satu jelas melihat di sana-sini puncak gunung, dari kejauhan tampak gunung Rinjani di Lombok. Namun di dalam, pemandangan itu semakin megah dan mengharukan. Satu kawah bundar panjang di depan kami sekitar satu jam panjang dan sekitar 1700 kaki. Itu Dinding jatuh secara vertikal dari semua sisi ke bawah. Tepi atas terpotong tajam di mana-mana seperti pisau; hanya tempat kami berdiri adalah permukaan yang kecil dan hampir rata. Hampir di mana-mana ia memiliki ketinggian yang sama hanya di S 83 ° W. dan di N. 82 ° W. adalah dua titik yang lebih tinggi, tertinggi dari garis kelihatan.


Zollinger bersama beberapa orang berhasil mencapai puncak, diatas puncak dia menggambarkan antara keindahan dan kengerian Tambora, sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, hanya padang pasir namun juga keindahan semenanjung sanggar diantara doro tabe sangat menakjubkan, tulisnya.


Oleh : Fahrurizki



Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top