Pertengahan abad 17 Dompu mengalami kondisi politik yang sangat pelik, dimana para pangeran saling mengklaim diri sebagai pewaris tahta yang sah, demi tujuan itu mereka tak segan juga meminta bantuan campur tangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk mendukung suksesi mereka mendapatkan tahta kesultanan. Dalam hal ini peranan kompeni pada kondisi politik kesultanan Dompu sangat mencolok, dengan politik adu dombanya kompeni berhasil mempengaruhi beberapa sultan Dompu.

Lukisan kisah cinta Laila Majnu karya Edmund Dulacs.
Saat kepelikan politik dalam negeri Kesultanan Dompu kian memanas, menjadi kesempatan VOC untuk memasuki ruang pemerintahan Dompu. Awal abad 18 di pulau Sumbawa adalah awal seringnya terjadi peperangan akibat pengklaiman perbatasan kerajaan. Tiap raja dan sultan di wilayah Semenanjung Sanggar saling bersi tegang tak pernah akur satu sama lain antara Sanggar, Pekat dan Tambora, selain perbatasan yang menjadi perebutan juga perbudakan kerap menjadi permasalahan di wilayah tersebut (Daghregister, 1680).

Perang terus terjadi antar kerajaan di Pulau Sumbawa yang meletakkan posisi VOC sebagai sekutu yang baik. Peluang VOC dalam hal ini sangat besar untuk menguasai perdagangan di pulau Sumbawa, sebab bangsa kulit putih lainnya seperti Inggris, Portugis dan Prancis juga mulai melirik pulau Sumbawa yang mulai terkenal dengan  kayu sopeng.

Namun semua kepelikan dan kerumitan masalah kerajaan-kerajaan pulau Sumbawa tak membuat hati Kamaluddin untuk saling berperang, kisah cinta Sultan Kamaluddin sebuah kisah yang sangat melankolis bagaikan cerita roman Romeo and Julietnya Shakespeare, kedua keluarga mereka juga saling berperang.

Sultan Kamaluddin mencintai seorang Wanita dari Sumbawa, bunga cinta mereka berdua berkembang ketika kedua kerajaan tersebut sedang dilanda pergolakan perang. Namun Sultan Kamaluddin bersikukuh untuk tetap mencintai dan menikahi wanita pujaannya tersebut sehingga dia meilih melarikan diri ke Sumbawa.

Sultan Kamaluddin merupakan putra kedua dari Sultan Daeng Manambang. Setelah saudaranya Sultan Samsuddin II wafat pada tahun 1732, Kamaluddin terpilih menggantikannya naik tahta tahun 1732, namun Kamaluddin tidak begitu tertarik tentang pemerintahan dan peperangan, akhirnya pada tahun itu juga dia memilih menuju Sumbawa untuk menemui tambatan hatinya dan meninggal tahta pada tahun yang sama ketika dia naik tahta yang telah menjadi haknya.

Setelah Kamaluddin meninggalkan tahta Kesultanan Dompu, maka majelis kesultanan memilih Daeng Mamu sebagai sultan Dompu dan dikukuhkan di Makassar pada tahun 1737. Daeng Mamu adalah cucu dari Sirajuddin I, ketika pengukuhan Daeng mamu juga mengalami protes dari keluarga istana namun pengangkatan Daeng Mamu di dukung oleh kekuatan VOC mau tidak mau Dompu harus menerimanya, Daeng Mamu resmi menjadi Sultan Dompu ke V dan dikenal dengan nama Abdul Kahar.


Oleh : Fahrurizki


 

1 comments Blogger 1 Facebook

  1. Dua pasasi terakhir menarik dikritisi karena mengandung ketidak-benaran sejarah. Tampaknya merujuk buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat yang banyak menyajikan pemaparan sejarah yang tidak benar khususnya di pulau Sumbawa. Perlu dikaji kembali . Siapakah raja Dompu Sultan Kamaluddin ?. Jangan berharap ada sumber Dompu yang menjelaskannya. Merujuk Naskah BO Bima, Sultan Kamaluddin adalah anak Sultan Ahmad Syah Manuru Kambu. Dia bergelar pedaengan : DAENG TULOLO dan bergelar posthumus : MA WA-A IHA. Oleh karena itu, sangat tidak benar mengatakan Sultan Kamaluddin adalah putera kedua raja Dompu DAENG MANOMBONG (gelar pedaengan dari raja Sultan Abdul Kadir Ma Wa- Alus ). Dalam konflik tahta Kesultanan Dompu, terjadi perten-tangan antara DAENG TULOLO ( Kamaluddin ) dengan DAENG MANOMBONG ( Sultan Abdul Kadir Ma Wa-a Alus ) dengan kerumitan proses penobatan raja Dompu yang rupanya menjadi wewenang Dewan Hadat Kesultanan Dompu yang dipimpin Bicara Dompu. Sultan Ahmad Syah Manuru Kambu bersaudara dengan DAENG MANOMBONG ( Sultan Abdul Kadir Ma Wa-a Alus ) sesama anak Sultan Abdul Rasul Manuru Laju. Ketika Sultan Abdul Rasul Manuru Laju mangkat, ia diganti oleh Sultan Ahmad Syah Manuru Kambu dan ketika Sultan Ahmad Syah Manuru Kambu mangkat, yang dinobatkan sebagai raja Dompu adalah Sultan Kamaluddin (DAENG TULOLO) anak Sultan Ahmad Syah Manuru Kambu. Namun dilengserkan oleh Dwan Hadat Kesultanan Dompu dan digantikan oleh DAENG MANOMBONG ( Sultan Abdul Kadir Ma Wa-a Alus) Dalam perkembangan selanjutnya,justru Dewan Hadat Kerajaan Dompu hendak melengserkan DAENG MANOMBONG ( Sultan Abdul Kadir Ma Wa-a Alus ) dan mengangkat kembali Kamaluddin (DAENG TULOLO).Akhir kericuhan tahta Kesultanan Dompu, yaitu DAENG TULOLO ( kAMALUDDIN )ditahan di Makassar tanpa kejelasan hukuman yang dijalani,Dengan fakta Naskah BO Bima, bagaimana bisa mengaratakan : " Kamaluddin mencintai seorang wanita Sumbawa .... bersekukuh untuk tetap mencintai dan menikahi wanita pujaannya .... tidak begitu tertarik tentang pemerintahan dan peperangan " ?. Apalagi diimbuhi dengan penuturan romantis dengan membandingkannya dengan Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Dianjurkan , jika menyajikan tulisan jangan merujuk buku Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat sepanjang terkait dengan sejarah Pulau Sumbawa bila tidak dilakukan analisis kritis karena hampir seluruhnya menyajikan ketidak-benaran.

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top