Dalam kitab-kitab suci agama besar kisah Nabi Nuh tertulis bagaimana sebuah petaka besar atau azab yang di turunkan dari langit berupa hujan dan banjir hingga menghanyutkan separuh Bumi, kemudian tercipta sebuah bahtera yang sangat besar untuk menampung semua umatnya yang taat serta ribuan binatang diselamatkan.

Lukisan Noah Ark on Mount Ararak oleh Simon De Myle

Menariknya dalam naskah Bima telah merekam kejadian besar tersebut dimana sesesorang terhanyut hingga ke Nusantara dan terdampar di Bima. Naskah tersebut ditulis ulang ketika era Sultan Hasanuddin (1695-1731). Penulisan teks di era tersebut juga banyak tercampur dengan legenda Jawa, Islam dan lokal. Juga di era Sultan Hasanuddin sekitar tahun 1720 masehi, mitos Sang Bima sebagai Dewa dalam kisah Mahabarata mulai ditulis oleh seorang bernama Wismarta yang diketahui adalah seorang fakir, Wisma berarti pengemis.

Bagaimana kisah banjir Nabi Nuh tersebut ditulis dalam Alkitab sebagai berikut :

Bumi dipenuhi oleh air bah yang membuat seluruh manusia berdosa talah mati. Diperkirakan bumi tergenang air bah selama 150 hari, dan mulai surut secara perlahan selama 224 hari. Dan bagian yang paling saya suka adalah, ketika Allah mengikat janji dengan Nuh. Anda dapat membayang bagaimana istimewanya Nuh dimata Allah. Allah mengikat perjanjian dengan Nuh bahwa tidak akan membinasakan manusia untuk kedua kalinya dan memberikan pelangi sebagai tanda perjanjian ( Kejadian 8:21, 22 ; 9:9-11 ; 9:12-17, Yesaya 54:9, 10 ).

Dalam Al-Quran juga mengisahkan kisah Nabi Nuh seperti yang telah ditulis dalam Alkitab dan kisahnya sebagai berikut :

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami , dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu , sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37).

Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).(QS. Al-A’raf: 64)

Ada kisah tersendiri bagi orang Bima mengenai kejadian besar terebut, ketika terjadi banjir Nabi Nuh kisah itu hingga tercatat dalam naskah peninggalan Kesultanan Bima yang di translitkan oleh Mahyuddin. Dalam kisah tersebut ditulis nama Lakare yang berasal dari kaum Nabi Nuh terbawa hanyut oleh banjir hingga sampai di Bima kemudian menetap beranak pinak, Mengenai Lakare ditulis dalam naskah Silsilah Bima sebagai berikut :

"Inilah turun temurun daripada bangsa yang bernama Lakare yang dibawa oleh papan kapal Nabi Allah Nuh, maka ialah memperbinikan anak Ncuhi Ngoco (Mbojol) yang bernama Putri Sangsa Indra Dewi, maka memperanakkan Putri Indra Dewi Nuriah, maka diperistrikan oleh Ncuhi Patalawu yang bernama Maharaja Wattah Cakawacah, maka memperanakkan ayahnya oleh Mantau Me`e Same`e."

Uniknya dalam naskah-naskah kuno di Nusantara, kisah Lakare sangat signifikan dimana hanya terdapat di Bima dengan jelas merekam dan mengisah terdamparnya seorang dari kaum Nabi Nuh yang selamat dari bencana besar tersebut hingga menikah dan keturunannya diperistri oleh Raja Bima.


Oleh : Fahrurizki


 

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top