Diarah timur tampak mendung mulai gelap bersiap mengguyur tanah Sape hingga Wawo, sayapun mulai menarik gas motor untuk menghindar hujan yang akan turun. Begitu tiba di Wawo Kombo saya mengambil jalur menuju arah Tarlawi pada pertigaan kecil yang juga agak tidak terlihat hanya ada papan kecil warna biru dengan tulisan ‘Desa Tarlawi’ dan anak panah. Memasuki jalur tersebut sepanjang jalan tampak pohon Bambu yang sangat rindang menutu menutupi mendung, memang sejak dulu Wawo sangat terkenal dengan berbatang besar atau mereka sebut O`o Potu, Desa Tarlawi masuk pada wilayah Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Memasuki lembah Tarlawi jalan mulai menurun namun beruntung jalannya sudah diaspal hingga kebawah hanya ada halangan sebuah jembatan yang patah hingga saat ini belum diperbaiki, beberapa orang sedang menimbun tanah biar tidak licin dengan batu disebelah jembatan tersebut untuk dilewati kendaraan, sangat tertolong dengan adanya beberapa orang tersebut. Memasuki Tarlawi Awa (Bawah) aktifitas masyarakat tampak sepi mungkin sedang bertamasya saya rasa dan biasanya orang di desa-desa yang ada di Bima pada bulan November hingga April mereka bermukim di atas gunung untuk Kanggihi (bercocok tanam) biasanya mereka turun hanya pada hari Jum`at saja.

Potret Orang Tarlawi, (Wa`i Kurai dan cucu-cucunya).

Sudah 1 kilo meter lebih perjalanan akhirnya saya sampai juga di Tarlawi Ese (atas) di atas desa ini tampak kelihatan masyarakat yang sedang duduk depan rumah mereka berhubung hari senin (1/1/2018) hari libur awal tahun masehi hanya terlihat beberapa orang saja karena hanya pada hari Jum`at sebagian masyarakat turun dari Kanggihi. Sayapun menyambangi mereka dan menanyakan orang tertua di Desa mereka yang bisa di wawancara untuk penulisan asal usul Tarlawi, merekapun merekomendasikan untuk ke rumah Wa`i Kurai, salah satu tertua yang ada di Desa mereka. Wa`i yang berarti nenek adalah panggilan untuk seorang perempuan yang tertua desa di Bima pada umumnya. Namun beruntung rumah Wa`i Kurai terletak sekitar 10 meter dari tempat saya bertanya tepatnya didepan kantor Desa Tarlawi.

Begitu tiba di rumah Wa`i Kurai sebuah rumah panggung yang masih mempunyai gaya arsitektur lokal dengan tinggi tangga sekitar 1,5 meter, saya mengetuk pintu dan salam kemudian seorang anak kecil laki-laki keluar lalu memanggil Wa`i Kurai. Kemudian dipersilakan masuk setelah memperkenalkan diri kepada Wa`i, lalu pertanyaan pertama kepada Wa`i adalah kegiatan membuat keranjang apakah masih dilakukan oleh kaum wanita di desa ini, membuat keranjang masih tetap dilakukan kata Wa`i, karna Tarlawi adalah sentral pembuat keranjang yang terkenal seantero Bima, tempat nasi, tikar dan lainnya dibuat oleh masyarakat Tarlawi. Pembuatan keranjang hanya dilakukan ketika Kanggihi berakhir yaitu pada bulan Juni hingga Agustus, semua kerajinan keranjang di jual di Kota Bima.

Setelah menjelaskan keranjang saya bertanya kepada Wa`i mengenai agama lokal masyarakat Tarlawi sebelum Islam masuk, dahulu sejak Wa`i kecil praktik agama kepercayaan Suku Mbojo yaitu “Parafu ro Waro” masih dilakukan di sebuah tempat yang dipercaya Parafu tempat roh leluhur mereka hinggap pada sebuah batu besar dengan melakukan Ngaha Caru yaitu mengadakan makan enak bersama di tempat tersebut untuk mengenang dan menghormati roh leluhur mereka. Wa`i menjelaskan bahwa dahulu ketika para Waro (leluhur) akan meninggal mereka biasanya menghilang atau Mbora dalam bahasa setempat tidak dikuburkan, oleh sebab itu mereka meyakini bahwa rohnya menghinggapi pada batu besar yang dianggap tempat Parafu. Wa`i Kurai bernama lengkap Saodah, Setelah menjelaskan keranjang dan Parafu kepada saya beliau merekomendasikan untuk ke rumah Haji Yusuf mengenai sejarah dan asal usul Tarlawi, kemudian sayapun menuju rumah Haji Yusuf yang tak jauh dari rumah Wa`i Kurai.

Begitu tiba dirumah Haji Yusuf, anaknya yang perempuan berkata bahwa Abu (panggilan ayah) masih di atas Oma (tempat berladang di atas gunung) dan akan turun pada hari Jum`at katanya. Saya berpikir daripada datang lagi nantinya, lebih baik langsung menyambangi Haji Yusuf di Oma, yang kata anaknya jarak sekitar 20 menit menuju kesana menggunakan sepeda motor. Lumayan dekat lebih baik memilih untuk jalan kaki hitung-hitung sekalian menelusuri Tarlawi, sepeda motor disimpan di halaman rumah Haji Yusuf dengan membawa mantel hujan saya menyusuri pegunungan Tarlawi dengan berjalan kaki hingga 1 jam perjalanan, tampak pegunungan dugunduli untuk ditanami jagung sebelah kiri punggung bukit terlihat sekelompok orang sedang menanam, tak terasa perjalanan menikmati udara pegunungan hingga sampai di So Rende tempat Oma Haji Yusuf berada.

Tampak seorang berdiri di depan Salaja Oma (gubuk ladang) dengan senyum yang ramah menyambut kedatangan saya, dan ternyata adalah Haji Yusuf atau biasa di panggil Abu La Eva oleh orang di Tarlawi. Beliau merupakan pensiunan pengawas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bima dan juga pernah mengajar di Desa Sambori sebagai guru sekolah dasar (SD), lalu mempersilakan saya duduk di bangku kayu kecil buatannya, sambil membakar satu batang rokok Haji Yusuf mulai membuka percakapan maksud dan tujuan saya. Setelah Memperkenalkan diri dan menjelaskan kepada Haji Yusuf saya mulai bertanya mengenai awal mula para leluhur mereka mendiami Tarlawi.

Kisah leluhur Tarlawi dimulai ketika mereka menempati daerah pesisir disekitar Ambalawi, kemudian mereka pindah ketika datang kekuatan besar dengan budaya yang baru juga seringnya terjadi penyerangan di kampungnya akhirnya mereka pindah untuk mencari tempat yang aman, Ambalawi dalam artian bahasa Bima kuno yang berarti lempar batu. maka naiklah mereka diatas daerah pegunungan dan memulai kehidupan baru, ada sebuah legenda yang mengawali kisah orang Tarlawi menempati daerah pegunungan kisah seorang anak yang dibawa oleh burung Garuda besar.
suatu ketika seorang perempuan dan anaknya pergi untuk mandi disebuah telaga di Tolo Ngaji sebelah Combo, saat Ibunya sedang mandi seekor burung Garuda besar melihat anak ibu tersebut dan mengambilnya membawa terbang hingga ke puncak gunung, ibunya melihat burung Garuda meletakkan anaknya pada sebuah batu, kemudian orang-orang mengejar dan hingga sampai pada batu dimana Garuda tersebut meletak anak itu, keadaan si anak baik-baik saja tanpa terluka sedikitpun, oleh orang-orang menandai bahwa itu adalah petunjuk dimana mereka harus pindah di atas tempat itu, setelah bermufakat mereka sepakat menamai tempat tersebut Buju Hudu yang berarti pegunungan tempat tinggal.

Tarlawi dahulu terpecah-pecah dalam berbagai kelompok komunitas masyarakat sebelum bersatu menjadi Tarlawi, ada sebuah kelompok masyarakat akibat seringnnya mereka mengalami kebakaran dan petaka lainnya di tempatnya membuat mereka resah, kemudian kejadian serupa seperti kisah burung Garuda namun mereka hanya melihat seorang anak duduk di atas batu yang menjadi pertanda bahwa itu petunjuk untuk pemukiman baru mereka. Maka pindahlah mereka untuk mendiami di sekitar batu tersebut dan batu tersebut diberi nama “Samongko” yang berarti tempat bersatu dan kuat, symbol kehidupan baru mereka. Maka dirayakanlah tempat baru tersebut dengan memukul sebuah gendang dan silu.

Sekitar Samongko bermukim ada beberapa kelompok masyarakat yaitu kelompok Buju Hudu, Dore Manua, Sanga Api, Dore Kore dan yang terakhir Kaworo. Keempat kelompok masing-masing dipimpin oleh seorang Karindo yaitu kepala suku sebelum zaman Ncuhi, akhirnya mereka mendengar suara gendang dan silu yang dimainkan di Samongko tadi, dari kejauhan membuat mereka penasaran apa yang terjadi disana sehingga orang-orang yang mendengar mendekati pada sumber suara itu. Setelah semua kelompok mendekat maka diceritakan kisah seorang anak dan batu diberi nama Samongko lalu keempat kelompok itu bersepakat juga untuk ikut bermukim bersama di sekitar Samongko. Semua bersepakat tinggal bersama dan gendang diberi nama “Bam`bah” sebagai alat untuk memanggil ketika ada sesuatu kejadian atau musyawarah, lalu diberilah nama “Tarlawi” dari bahasa lokal mempunyai dua kata yaitu Tara adalah sah dan Lawi adalah batu yang berarti batu yang sah.

Desa Tarlawi diantara pegunungan Wawo dan Lambitu

Zaman Ncuhi Tarlawi dipimpin oleh seorang Ncuhi bernama Matara masuk dalam wilayah Ncuhi Doro Wuni, pemukiman Tarlawi terbagi dari kelima kelompok, pada bagian puncaknya bermukim dari turunan kelompok Buju Hudu kelompok yang awal menempati Samongko, dibawahnya dari turunan kelompok Dore Manua lalu dibawahnya lagi turunan dari Sanga Api, dibawahnya Dore kore dan yang paling bawah adalah turunan dari Kaworo. Mereka menyebut orang asing diluar komunitas masyarakat Tarlawi dengan sebutan “Saru” yang berarti orang asing. Ada sebuah monument kecil dari batu yang berbentuk seorang anak dibuat sebagai lambang bersatunya seluruh kelompok menjadi Tarlawi si dekat Samongko yang sekarang dibangun kantor Desa Tarlawi, dan batu monument tersebut diberi nama “Satuwe” yang berarti bersatu, namun batu tersebut telah dipindahkan oleh masyarakat, kisah Haji Yususf.

Tarlawi mempunyai bahasa tersendiri yang disebut bahasa Tarlawi, bahasa lokal mereka kerap digunakan setiap harinya pada sesama Tarlawi, beberapa kata Tarlawi yang berbeda dengan Bima yaitu Kambau (Kerbau), Manga (Makan), Manu (ayam), Kababu (Baju) Pu`u Pou (pohon) dan Dongka-dongka (jalan-jalan). Jika lawan bicaranya dari Bima maka mereka menggunakan ‘Ngahi Mbojo’ bahasa Bima serta bahasa Indonesia. Bahasa Tarlawi penyebarannya kesemua daerah pegunungan bagian timur teluk Bima yaitu Kalodu, Lambitu, Wawo dan Tarlawi. Yang masih menggunakan bahasa Tarlawi hanya Lambitu dan Tarlawi itu sendiri, sedangkan Wawo dan Kalodu sudah menggunakan bahasa Mbojo sekarang atau orang Tarlawi menyebutnya Kiwa Mbojo (Bahasa Bima).

Zaman kesultanan seorang pembuat bubur sarapan pagi untuk Sangaji (Sultan) diambil dari Tarlawi turun temurun dinamai “Wa`i Katuru”, beliau sangat ahli dalam memasak bubur dan adalah nenek buyut dari Haji Yusuf atau disebut Suri (buyut) dalam bahasa Bima. Selain pembuat bubur di Tarlawi di era Kesultanan juga diambil turun temurun para penabur gendang Suba (gendang perang) yang keturunannya bernama Lisu Ncumbe. Juga era kesultanan Tarlawi masuk dalam wilayah Kejenelian Wawo di pimpin oleh seorang Gallarang (kepala desa) setelah masa Ncuhi dan Gallarang yang terakhir di Tarlawi bernama Gallarang Semba. Kemudian Tarlawi peralihan menjadi Desa tahun 1968 masuk dalam wilayah Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima. Kepala Desa Tarlawi yang pertama Haji Mansur, hingga sekarang Tarlawi dipimpin oleh tujuh orang kepala desa.

Dahulu zaman Kolonial Belanda Tarlawi sempat dipindahkan di Kombo dan pemukiman mereka diberi nama Wadu Panta sebagai Wata (batas) wilayah mereka, namun kehidupan di tempat baru tersebut tidak ada air dan tidak cocok dengan orang Tarlawi akhirnya mereka kembali ke tempat awal mereka, orang Tarlawi yang tidak mampu lagi kembali mereka membangun tempat tinggal baru yang disebut Tarlawi Awa dari sinilah asal Tarlawi menjadi dua kelompok yaitu Tarlawi Awa dan Tarlawi Ese.

Setelah dua jam hujan masih mengguyur So Rende saya mengambil keputusan untuk menembus jalanan setapak dan licin dengan menggunakan Jas Hujan, langkah kaki perlahan karena tanah gunung yang agak licin. Dari atas puncak gunung Tarlawi tampak kabut turun, view yang indah sehingga lelahpun hilang dan tidak terasa juga langkah kaki hingga sampai di Desa.


Oleh : Fahrurizki
Traveler dan Eksplorer



Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top