Pasukan Sabilillah sibuk mempersiapkan peralatan perang mereka seperti keris, tombak serta parang untuk menyambut pasukan KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) yang akan datang di Dena untuk meredakan pemberontakan masyarakat karena penolakan merek untuk tidak membayar pajak yang mencekik. Sebuah zona perang dipersiapkan dengan strategi yang matang oleh pasukan Sabilillah.

Bantuan pasukan KNIL didatangkan dari Makassar untuk meredakan pejuangan Sabilillah yang di anggap pemberontakan oleh Sultan Ibrahim. “25 Februari 1908 Gubernur Swart menyetujui untuk mengirim lima brigader marsose dan tentara marinir dengan kapal Siboga untuk menuju Rasa Ngaro,” tulis Tawaludin Haris dalam Kerajaan Tradisional : Bima.

 Aanval der Baliers bij Kasoemba. Serangan dan perlawanan rakyat Bali pada KNIL, gambar oleh George Kepper tahun 1902.

Jam 11.00 siang hari, pasukan KNIL dengan tiba-tiba menyerang dari arah tenggara Doro Lebo, ketika itu Dena sedang hujan, pasukan Sabilillah begitulah orang Dena menamakan kelompok perlawanan mereka dibawah pimpinan tiga orang ulama terpandang yaitu Haji Abdurrahim Abu Sara, Haji Usman Ruma La Beda dan Haji Abdul Azis Abu La Sarah menyambut KNIL dengan teriakan Sabilullah menggema diantara Doro Lebo.

Pertempuranpun terjadi dengan sengitnya, namun karena kalah jumlah dan peralatan perang yang tidak memadai peralatan pasukan Belanda, membuat pasukan Sabilillah terdesak, akhirnya mereka mundur menuju Sungai Campa.

Strategi baru yang digunakan oleh pasukan Sabilillah yaitu bertahan diantara bebatuan sungai Campa, kemudian banjir tiba-tiba datang ketika pertempuran terjadi dan menghanyutkan beberapa orang, karena medan pertempuran banjir mengharuskan pasukan Sabilillah harus naik ke atas tepian sungai, salah satu pimpinan Lede Ama Ibu terkena tembakan oleh KNIL.

Pasukan Sabilillah kemudian mundur menuju Tolo Sera dan KNIL mencegatnya di Karia Hu`u. pertempuran terjadi, KNIL menghujani pasukan Sabilillah dengan peluru yang banyak sekali. banyak masyarakat Dena yang meninggal dan tertangkapnya salah satu pemimpin Haji Usman Ruma La Beda.

Sisa pasukan Sabilillah yang masih hidup mundur dan bersembunyi di Oi Wulu diantara rumah penduduk, seorang mata-mata kaki tangan Belanda yang bernama Haji Hamu dari Sila menuntun pasukan KNIL menuju rumah Haji Abdurahim Abu La Sara yang dijadikan markas perjuangan orang Dena. Didapati 28 orang pejuang laki-laki dan perempuan di rumah Haji Abdurahim, kemudian mereka semua diberondong timah panas tanpa ada yang tersisa hidup satupun.

Para pejuang yang tersisa ditembak mati dan seluruh desa Dena dibakar habis, kemudian Haji Hamu menuntun lagi pasukan KNIL menuju markas kedua disebelah utara Masjid Dena yaitu rumah Ompu Anco. Rumah itu dihujani peluru oleh KNIL tanpa menyisakan satu orangpun yang hidup, 15 orang dalam rumah laki-laki dan perempuan semua meninggal.

Akhirnya seluruh pasukan Sabilillah yang tersisa menyerah, dan tiga pimpinannya ditawan oleh KNIL (Belanda). Haji Usman Ruma La Beda, Haji Mustafa Abu La Hawa, serta Abdul Azis Abu La Sarah dibawa menuju Sori Dena yaitu Wadu Bura tiga kilometer dari desa Dena untuk melakukan perjanjian dengan Belanda. Perjanjian tersebut mengharuskan rakyat Dena mengakui kekuasaan Belanda dan seluruh orang Dena harus membayar 100 ringgit kepada Belanda (Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah NTB, 1991).

Efek domino belasting atau pemungutan pajak kepala di Pulau Sumbawa yang berkepanjangan menuai banyaknya kerugian moral maupun materi yang di alami oleh rakyat khususnya kelas kebawah (jelata), dimana mengharuskan mereka untuk membayar pajak yang tinggi jauh dari kemampuan ekonomi mereka. Sehingga hal itu yang memicu terjadinya perlawanan rakyat terhadap penguasa kala itu adalah Hindia Belanda.

Selain penarikan pajak yang tinggi juga upaya rakyat ingin terbebas dari belenggu penjajahan. Perang perlawanan rakyat pada penguasa Hindia Belanda berkecamuk di pulau Sumbawa dari tahun 1907 hingga 1909, beberapa titik perlawanan yaitu perang Undru di Sumbawa, perang Ngali, perang Donggo dan perang Dena yang terjadi di Bima adalah peristiwa besar yang terjadi dalam upaya perlawanan rakyat secara terbuka pada penguasa.

Perlawanan rakyat di Bima dipelopori oleh kelompok Ruma Bicara Daeng Manasa, kelompok mereka dikenal dengan nama “Makalosa Weki”, sebuah kelompok yang melawan kebijakan Sultan untuk tidak tunduk kepada Hindia Belanda atas kontrak yang mengharuskan rakyat membayar pajak yang sangat tinggi.


Oleh : Fahrurizki





0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top