Sebuah kisah perjuangan pada hari kemerdekaan bangsa ini sangatlah penting untuk menjadi pembelajaran pada generasi mengenali jati diri bangsa mereka, dari perjuangan abad 16 perang saudara kerajaan Bima yang ditaklukkan oleh Manuru Suntu, terlibatnya Bima dalam perang Makassar oleh Sultan Abdul Khair Sirajuddin, hingga perjuangan para pemuda era 45 yang ikut mewarnai sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Awal perjuangan untuk perubahan dilakoni oleh Tureli Ngampo (Panglima Perang) Manuru Suntu dalam perang saudara tahun 1620 hingga 1640, perang dimulai ketika tahta penguasa Bima diambil alih oleh Raja Salisi yang bukan sebagai pewaris tahta yang sah, Salisi memerintahkan pasukan pendukungnya untuk membunuh seluruh putra Mahkota.

Perang saudara itu bertepatan dengan momentum penyebaran Islam di Bima yang dibawa oleh Kerajaan Gowa, dalam catatan Lontaraq penaklukkan Bima di mulai tahun 1608, namun sepenuhnya Islam belum berkembang dan ditolak oleh Raja Salisi karena juga sikap anti Gowa masyarakat Bima saat itu. Perang saudara antara Raja Salisi dan kubu La Kai (putra Mahkota terakhir yang hidup) terus bergejolak di tanah Bima, tahun 1620 terjadi perang di Wera yang menewaskan salah satu Panglima perang di kubu La Kai.

Kemudian tahun 1640 Manuru Suntu memimpin pasukan Bima dan Gowa menuju tanah Bima untuk menaklukkan dan Raja Salisipun dikalahkan. Intisari dari kisah perang saudara itu menjadi momentum besar Bima menjadi kerajaan Islam hingga kini dan titik awal peradaban baru kerajaan Bima mulai dikenal di Nusantara.

Memasuki tahun 1666 meletus perang Makassar melawan VOC Belanda, keterlibatan Bima dalam perang itu tak lain Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Laksamana angkatan laut kerajaan Gowa dan juga masih mempunyai hubungan kekerabatan keluarga dengan kerajaan Gowa. Sultan Bima dikirim oleh Sultan Hasanuddin (Gowa) untuk menaklukkan perlawanan kerajaan Buton terhadap Gowa. Setelah ditaklukkan Buton kembali melakukan perlawanan dibantu oleh Belanda dengan ratusan prajurit perang.

Perang Makassar adalah perang terpanjang yang pernah terjadi dalam sejarah perang di Nusantara, terjadi selama empat tahun lamanya. Dalam hal ini perlawanan dan kepatriotan mereka melawan VOC Belanda adalah suntikan semangat untuk membuka kembali keteladanan mereka melawan penjajahan dan nilai loyalitas untuk bersatu membela tanah air.

Perjuangan para leluhur di Bima pada tahun 1945 juga adalah moment menggapai harapan untuk sebuah titik akhir kemerdekaan, mimpi terbebas dari belenggu penjajah adalah impian cita mereka untuk masa depan bangsa. Contoh kecil sebuah loyalitas untuk merah putih terbentuk di Tente 2 September tahun 1945 dan awal dikibarkannya bendera bangsa Indonesia dihadapan para pejuang API (angkatan pemuda islam) Bima.

Thayib Abdullah, Saleh Bakry dan Noer Husen serta para pejuang API lainnya adalah contoh kecil tunas-tunas muda penentang penjajahan pada masa itu, bukan hanya perang fisik dengan senjata yang mereka lalui, juga pergorbanan mental dan jiwa mereka yang dianggap ingin melengserkan kekuasaan kala itu, berbagai pengorbanan juga mereka lalui bersama seperti ditahan dan disiksa oleh NICA ketika kekuasaan NIT di Bima, namun mereka lawan siksaan itu dengan tetesan darah semangat untuk bangsa yang merdeka, melalui perundingan dan pemikiran yang baik juga mereka lakukan, seiring waktu berjalan harapan dan impian mereka terwujud pada tahun 1951 Bima terbebas dari penjajahan selamanya.

Kemudian sebuah peristiwa perkumpulan tanpa memandang derajat dan kelas manusia untuk sebuah kemerdekaan sejati pernah terbentuk pada 21 April 1950 di Bima, ribuan masyarakat dari berbagai kalangan dan organisasi masyarakat bertujuan untuk mendesak Sultan Bima Muhammad Salahuddin untuk keluar dari Negara Indonesia Timur (NIT). Yang ingin memecah belah NKRI dan mengembalikan kekuasaan Belanda kala itu.

Raja Bicara Abdul Hamid dengan pergerakan KAMI (Kepanduan Angkatan Muda Indonesia) dan Persatuan Gelarang, Abdul Gani Sabil IPI (Ikatan Pegawai Indonesia) dan Usman Abidin dengan IQAM (Ikatan Qaum Muslimin), yang diketuai oleh Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan berbagai organisasi lainnya di Bima adalah pelopor pergerakan memegang teguh NKRI sebagai Negara kesatuan yang tidak dapat dipisahkan lagi.

Idris Djafar salah satu yang menentang Kesultanan Bima bergabung dengan NIT dengan melakukan aksi pengrobekan mata uang NIT disepanjang jalan di Bima, aksi tersebut menggambarkan sebuah upaya memberikan perlawanan bahwa bangsa yang bersatu dengan NKRI tidak dapat dibeli dengan apapun, masih banyak kisah perjuangan yang menarik di Bima dan banyak tokoh-tokoh yang perlu kita kenang perjuangannya.

Mungkin kisah usang mereka di atas tidaklah amat penting, namun pencapaian perjuangan mereka yang kini kita nikmati. Di kemerdekaan yang ke 71 tahun ini adalah kesempatan yang sangat baik sekali untuk menggali perjuangan para leluhur di Bima pada masa lampau. Ketika generasi telah kehilangan arah, mungkin saatnya kisah patriot para leluhur untuk menjadi penerang pembelajaran mengenal identitas bangsa ini. Ingat, mereka para pejuang dulu tidak perlu dihargai dengan medali, namun perjuangan mereka dulu adalah sebuah penghargaan untuk masa depan bangsa dan generasi.


Oleh : Fahrurizki





0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top