Pada malam hari 2 September 1945 seorang pemuda pembawa pesan kemerdekaan M Noer Husen yang di utus dari Singaraja  di panggil untuk datang ke Tente untuk ditanyai perihal kemerdekaan Indonesia. Dari Desa Keli menuju Tente, M Noer Husen sangat gembira karena ada orang yang respon terhadap pesan kemerdekaan yang dia bawa dari Singaraja tersebut.

Sesampainya di Tente dan langsung bertemu dengan beberapa pemuda yang sudah menunggunya untuk kabar Proklamasi kemerdekaan tersebut, saat itu malam hari dan dalam suasana perang tentu rasa curiga dan was-was pasti menghinggapi pikiran M Noer Husen Muda.

“Apakah benar kemerdekaan Indonesia sudah di proklamasikan?” Tanya Thayib Abdullah kepada M Noer Husen, di kutip dalam Rangkaian Melati Kehidupan H. M Thayib Abdullah sebuah buku Biografi perjuangan yang di terbitkan tahun 1997.

“Benar”. Kata M Noer Husen, kemudian Thayib Abdullah bertanya lagi “Apakah ada bukti-buktinya?!”. Kemudian di keluarkan bukti tersebut yaitu tiga buah surat dari Gubernur Sunda Kecil I Gusti Ketut Puja yang ditujukan untuk Sultan Bima, tapi surat kemerdekaan tersebut tidak di tanggapi dengan serius.

Karena terlambatnya tersebar berita kemerdekaan banyak kerugian mental maupun fisik yang dialami oleh rakyat Bima kala itu. Menurut Ahmad Amin “rakyat banyak menderita sehingga kebencian rakyat terhadap Jepang kian bertambah besar. Meskipun Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 terlambat di dengar di Bima”. (Sejarah Bima. Sejarah Pemerintahan dan Serba Serbi Kebudayaan Bima. 1971)

“Ini bukan berita lagi, tetapi sudah suatu kepastian yang dapat diyakini kebenarannya. Maka marilah saat ini juga kita berikrar mendukung Proklamasi tersebut dan menyusun barisan untuk mempertahankan kemerdekaan ini”. Kata Saleh Bakry yang dikutip dari Rangkaian Melati Kehidupan H.M Thayib Abdullah.

Setelah tersiar kabar Proklamasi kemerdekaan di tanah Bima, serentak dari berbagai tokoh pemuda saat itu datang di Tente untuk mendengarkan langsung dari pembawa pesan kemerdekaan M Noer Husen bahwa Negara Indonesia telah Merdeka dengan di bacakannya Proklamasi Kemerdekaan oleh Sukarno-Hatta.

Maka pada malam itu juga para pemuda di Tente tersebut berikrar dan bersumpah untuk membela Proklamasi kemerdekaan 45 tersebut di Bima sampai titik darah terakhir. Dimana saat itu juga di buatlah surat ikrar sumpah setia, ikrar sumpah tersebut di tanda tangani dengan memakai tinta darah mereka sendiri yang di kenal dengan sumpah “Berjuang Sampai Mati” untuk Merah Putih yang dilakukan di rumah Thayib Abdullah.

Beberapa nama para pemuda yang bertanda tangan untuk ikrar sumpah setia pada Merah Putih dan Kemerdekaan tersebut, antara lain yaitu :

1. M.  Saleh Bakry
2. M. Thayib Abdullah
3. Abubakar Abbas
4. Abdullah Amin
5. Abubakar Djafar
6. Achmad Daeng Amin
7. Yahya Teta La Ani
8. Abdul Rahman Yusuf
9. Husain Abdullah
10. Yaman Ibrahim

Setelah mereka menoreh tinta darah di atas ikrar sumpah setia maka bersama mereka membaca sumpah yang memakai bahasa Bima, dan sumpah inilah yang mengawali perjuangan para pemuda tersebut di tanah Bima untuk membela Merah Putih, bunyi sumpah tersebut sebagai berikut :

Mori ato Made !!
Tahopu made di umbu, dari pada mori di jajah !
Dana Mbojo di ru`u Mbojo, Lain di cou-cou
Ndai loasi ncao sampe made !!

Pembentukan pergerakan kemerdekaan para pemuda tersebut, menyebar ke seluruh tanah Bima mengenai perjuangan mereka. Kemudian dari para pemuda tersebut terlahirlah gerakan perjuangan yang di namakan Angkatan Pemuda Indonesia atau di singkat API yang di ketuai oleh Thayib Abdullah, gerakan perjuangan tersebut sangat agresif terhadap persoalan penjajahan.

Dengan tersebarnya berita kemerdekaan maka tanggal 25 Oktober 1945 para pemuda Bima mendesak pemerintah setempat untuk segera mengambil langkah dan menyatakan kemerdekaan Indonesia dengan mengibarkan Merah Putih di Istana Bima serta mengangkat Abdul Kahir sebagai Jena Teke (Putra Mahkota).

Oleh : Fahrurizki



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top