Pulau Kaung terletak di Desa Kaung Kelurahan Buer Kecamatan Alas, pulau ini mayoritas penduduknya bukan hanya asal Sumbawa tapi mereka berasal dari berbagai etnis yaitu Bugis, Badjo dan Mandar yang berasal dari Sulawesi yang biasanya bermukim di daerah pesisir, karena dapat lihat juga budaya Pulau Sumbawa masih satu rumpun dengan Sulawesi.

Nama pulau Kaung diambil dari kata“Kaung” yang dimana berarti “merangkul” dari bahasa badjo, dimana dulu sejarah awalnya para penduduk pulau Kaung ini pertama kali dihuni oleh suku Badjo sebelum meletusnya gunung tambora 1815 masehi, kehidupan mereka di teluk santong bisa terbilang makmur. Kemudian tepatnya tanggal 15 April 1815 gunung tambora meletus begitu dahsyatnya, sehingga membuat kelaparan melanda para penduduk di semenanjung sanggar bahkan di eropa yang dikenal dengan tahun tanpa musim “The Year Without a Summer” 1816.

perahu penduduk pulau kaung



























Nama pulau kaung sendiri belum ada saat itu yang dimana awalnya setelah meletus gunung tambora orang-orang yang yang selamat dari letusan tambora disekitar teluk saleh berkumpul, kemudian mereka saling merangkul dan mulai membuat kehidupan di pulau tersebut, dan kemudian diberilah nama Kaung yang berarti merangkul bersama.

Setelah terbentuknya suatu komunitas kehidupan masyarakat di pulau kaung ada masalah yang terbesar yang dihadapi mereka yaitu gagal panen akibat cuaca buruk pengaruh dari letusan tambora, sehingga untuk bertahan hidup para laki-laki pulau kaung menjadi perompak menjarah kapal-kapal dagang yang lewat, dan akhirnya mereka juga dikenal dengan bajak laut teluk saleh.

Waktu ke waktu telah terlewati memasuki abad 20 penduduk semakin bertambah di pulau kaung, dan ditambah lagi berdatangan orang-orang dari Bugis dan Mandar, dan percampuran kawin mengawin dengan masyarakat pribumi Sumbawa sehingga populasi pulau kaung semakin bertambah. Yang lebih menarik lagi dipulau kaung yaitu sebuah mitos yang hidup didalam masyarakat pulau kaung yaitu bila ada seorang yang tidak bisa keluar dari kaung karena pulau tersebut berbentuk huruf U maka seorang itu wajib menikahi wanita di pulau kaung.

penjual sembako di pulau kaung
Kebanyakan penduduk pulau kaung bekerja sebagai nelayan,  orang kaung mencari atau  pergi menangkap ikan bisa berbulan-bulan di laut bahkan mereka sampai ke Ternate, Halmahera dan Papua untuk menangkap ikan, laut merupakan sumber mata pencarian suku Badjo maka semua segala kebutuhan mereka di ambil di laut, seperti dalam membangun rumah, mereka (kaung) biasanya mengambil karang yang mati untuk dijadikan pondasi rumah, karena biasanya mereka membangun rumah diatas laut dan ini sudah menjadi tradisi di Kaung.

batu karang yang dikumpulkan untuk pondasi rumah
Selama tujuh hari biasanya pualau kaung sepi karena kebanyakan kaum pria pergi untuk melaut atau mencari penghidupan di laut, tapi hanya hari Jum`at mereka tidak melaut karena mereka tetap menjaga tradisi sejak nenek moyang mereka untuk persiapan Sholat Jum`at.




0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top