Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan kepada umatnya tentang bahaya sifat ghuluw dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud RA, berbunyi:“Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya sebab berlebih-lebihan dalam agama”.

Ghuluw itu maksudnya berlebih-lebihan dalam beragama, jauh dari spirit humanisme universal.Kaku, dan nggak karuan.Konsekuensinya, gegara melihat simbol-simbol agama lain aja, sudah kepanasan. Membaca kitab suci agama lain aja, takut. Apalagi bercakap-cakap tentang cinta kasih dengan penganut agama lain, gagap. Terlebih bersilaturrahmi dengan saudara sebangsa di rumah ibadah penganut agama lain. Itulah yang dimaksudkan sebagai radikalisme itu, sebuah paham yang berlebihan, pro kekerasan, intoleran.


Buya Syafii Maarif telah mengingatkan, bahwa radikalisme merupakan satu langkah menuju terorisme. Contoh ISIS, sebuah kelompok radikalis Islam yang berhaluan politik geras keras dan bersifat transnasional. Semangat radikalisme Islam transnasional tercermin pada ideologi politiknya yang bercita-cita mendirikan imperium kekhalifahan global secara ekstrem dan eksklusif.Kelompok ini selalu merasa diri paling benar, memandang orang lain salah, dan thaghut.


Penting dicatat, kita memang disuruh, bahkan wajib agar menjadi muslim yang kaffah, baik pada tataran aqidah, fikih maupun tasawuf. Atau dalam istilah sufi: syari’at, tarekat, hakikat, makrifat. Problemnya adalah, penyakit menegasikan orang lain, sikap dan perilaku intoleran. Secara akademik, hal seperti itulah apa yang menjadi konteks dari makna dari radikalisme dalam perbincangan ekspresi keislaman yang tak terlepas dari ketegangan-ketegangan sosio-kultural.

Perilaku ISIS mengingatkan kita pada zaman klasik, yakni sekelompok khawarij yang suka mengkafir-kafirkan (takfiri).Atas landasan itu, maka kelompok apapun yang berada di luar golongan ISIS, layak diganyangi.Khotbah takfiri berkumandang keras di mana-mana, warisan suci umat muslim pun dibumihanguskan oleh ISIS yang gagal paham tentang entitas kebudayaan. Sungguh ngeri terbayangkan, kalau kelompok bigot ini menguasai Bima, bukan hal yang tidak mungkin makam kesultanan Islam Bima di Dana Taraha, dihancurkan pula.Jangan sampai terjadi.
Timur Tengah dikepung aneka konflik, kendati disebabkan oleh faktor ekonomi-politik yang bertautan dengan dinamika global, tapi faktor agama tak terhindarkan pula.Maka, jangan sampai kekerasan atas agama itu menjalar ke Indonesia. Yang sederhana saja sebenarnya, misalnya membuang sampah di tempatnya, menyingkirkan duri di tengah jalan, menghibur sohib lewat kisah sufi Abu Nawas, Hoja dan Gus Dur. Jangan terlalu kaku.

Aksi teror bom di Pasuruan, Surabaya, Sidoarjo dan Riau beberapa waktu yang lalu, terindikasi bagian dari jejaring teror ISIS, memberikan pesan bahwa sel-sel teroris terus mengancam tiada akhir.Jangan anggap enteng.Korban sudah berjatuhan.Pelaku teror dengan segala motif dan manifestasinya telah banyak terungkap.Ini fakta, bukan isu. Kelompok ini mengerek bendera Islam pula, kan kita yang malu. Mari meluruskan, bukan malah jadi pendukung dengan segala apologi.
Maka, sangat mengherankan kalau ada anggapan yang berkecambah di kalangan penggemar teori konspirasi, seolah-olah aksi terorisme itu dirancang oleh kekuatan tertentu.Namun sayang beribu sayang, mereka tidak bisa membuktikan sama sekali. Karena itu, “Islam” model ISIS, Boko Haram, dan sejenisnya, mesti ditangkal dengan ijtihad dan konsepsionalisasi pemikiran keagamaan yang cinta damai.

Belakangan muncul konsep Islam Nusantara ala NU, Islam Berkemajuan ala Muhammadiyah. Jangan dipertentangkan, justru kedua arus utama itu dapat melengkapi satu sama lain bagaimana praktik keberislaman yang ideal, dan tidak ketus terhadap tradisi lokal, selanjutnya menjaga rumah kebangsaan di atas landasan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
Sebagai catatan, kelompok kekerasan atas nama agama terdapat dalam setiap agama. Misalnya Zionis-Yahudi yang seringkali menyiksa warga sipil Palestina.Di kalangan Kristen dikenalkelompok Hutaree, “tentara Kristen”, yang selalu mengebom polisi dan melawan pemerintah Amerika Serikat.Di komunitas Hindu, ada kelompok Sikh yang kerap berbuat teror di India, sampai terorisme sekte Aum Shinrikyo di Jepang.

Setahun terakhir, para ulama dan tuan guru Bima bersuara. Memang sebelumnya sudah banyak deklarasi anti-radikalisme dan terorisme, termasuk diskusi hingga seminar.Namun gema dan gaung pengarus-utamaan Islam moderat yang dikumandangkan para ustadz tawadhu’ dan ulama kharismatik telah memberikan dukungan moril yang berarti.

Mengutip lombokita.com, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Madinah Kabupaten Bima, Ustadz Zabir menegaskan mendukung Polri tolak faham radikalisme dan terorisme di NTB.“Kita tidak menginginkan lupa terhadap ajaran Islam, yang mana apabila masyarakat tidak faham Islam pasti mereka melakukan keonaran,” ucap Ustadz Zabir di Bima, Selasa (19/6/2018).

Dari sumber yang sama, pimpinan pondok pesantren Al-Husainy Kota Bima TGH. Ramli Ahmad, menolak keras paham radikalisme bersama 800 santrinya. “Ratusan santri yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren, terus gencar memberikan bimbingan agama kepada kalangan santri,” kata TGH Ramli Ahmad menuturkan, pada Jumat (8/6/2018).Ia menghimbau kalangan santri harus punya misi yang baik dan benar untuk umat dan bangsa ini. Misi itu adalah Al Quran dan Al Hadist, belajar dan mengajarkan orang.Menjadi santri harus berkhidmat kepada guru dan kyai.“Paham radikalisme dan terorisme harus disingkirkan. Namun untuk memerangi paham semacam itu, butuh kerja sama semua elemen. Terutama masyarakat harus membantu untuk mencapai keamanan bersama,” harapnya.
Dalam falsafah hidup orang Bima dikenal budaya “Maja Labo Dahu (malu dan takut).Kalau diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, sangat malu jika melakukan perbuatan tercela, seperti menyakiti orang lain, berbuat teror terhadap orang lain, tawuran antara sesame.Takut berbuat yang tidak disukai Tuhan.Ringkasnya, iman dan taqwa.

Mari memperbanyak, memperluas dan meneguhkan pesan-pesan perdamaian kepada khalayak ramai.Tuan Guru Bima sudah bergerak, maka kita kaum muda pun dituntut untuk bergerak sesuai peran dan posisi masing-masing.Sampaikanlah walau satu status di Facebook, misalnya.Yang positif, konstruktif, dan memberi inspirasi bagi banyak orang.

Dalam konteks khazanah Islam Bima, dikenal term “Fitua” sebagai konsep tasawuf.Hal ini bisa menjadi etos keberagamaan orang Bima bagaimana memahami hakikat diri, tujuan hidup, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia, maupun hubungan dengan alam.Sehingga kelak terbentuk harmonisasi di antara kita.

Tak ada lagi saling mencurigai, saling membenci dan saling memaki. Karena ini tahun politik, semangat fitua mesti dibumikan, dalam pengertian: beda pilihan tidak masalah dalam gelaran hajatan demokrasi, silakan memilih calon masing-masing, tapi persaudaraan adalah nomor wahid. Tulisan ini sesungguhnya curhatan ringan hasil dari percakapan sekali waktu di komunitas Kalikuma Educamp, bersama Fahru Rizki, Ardy, Imam, Asrarudin, Hendra, sembari menekan “radikal bebas” dalam tubuh dengan ngopi, kahawa!

Dari tasawuf-fitua untuk perdamaian di Dana Mbojo, begitu kira-kira semacam kesimpulan saat itu.Demikiansyah!


Oleh : Mawardin
Penggiat Literasi Educamp Kalikuma - Alamtara Institute

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top