Pertengahan abad 17 Dompu mengalami kondisi politik yang sangat pelik, dimana para pangeran saling mengklaim diri sebagai pewaris tahta yang sah, demi tujuan itu mereka tak segan juga meminta bantuan campur tangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) untuk mendukung suksesi mereka mendapatkan tahta kesultanan. Dalam hal ini peranan kompeni pada kondisi politik kesultanan Dompu sangat mencolok, dengan politik adu dombanya kompeni berhasil mempengaruhi beberapa sultan Dompu.

Saat kepelikan politik dalam negeri Kesultanan Dompu kian memanas, menjadi kesempatan VOC untuk memasuki ruang pemerintahan Dompu. Awal abad 18 di pulau Sumbawa adalah awal seringnya terjadi peperangan akibat pengklaiman perbatasan kerajaan. Tiap raja dan sultan di wilayah Semenanjung Sanggar saling bersi tegang tak pernah akur satu sama lain antara Sanggar, Pekat dan Tambora, selain perbatasan yang menjadi perebutan juga perbudakan kerap menjadi permasalahan di wilayah tersebut.(Daghregister, 1680)

Wanita Sumbawa di pawai Festival Moyo 2015 (ilustrasi)

Perang terus terjadi antar kerajaan di Pulau Sumbawa yang meletakkan posisi VOC sebagai sekutu yang baik. Peluang VOC dalam hal ini sangat besar untuk menguasai perdagangan di pulau Sumbawa, sebab bangsa kulit putih lainnya seperti Inggris, Portugis dan Prancis juga mulai melirik pulau Sumbawa yang mulai terkenal dengan  kayu sopeng.


Namun semua kepelikan dan kerumitan masalah kerajaan-kerajaan pulau Sumbawa tak membuat hati Kamaluddin untuk saling berperang, kisah cinta Sultan Kamaluddin sebuah kisah yang sangat melankolis bagaikan cerita roman Romeo and Julietnya Shakespeare, kedua keluarga mereka juga saling berperang.

Sultan Kamaluddin mencintai seorang Wanita dari Sumbawa, bunga cinta mereka berdua berkembang ketika kedua kerajaan tersebut sedang dilanda pergolakan perang. Namun Sultan Kamaluddin bersikukuh untuk tetap mencintai dan menikahi wanita pujaannya tersebut sehingga dia meilih melarikan diri ke Sumbawa.

Sultan Kamaluddin merupakan putra kedua dari Sultan Daeng Manambang. Setelah saudaranya Sultan Samsuddin II wafat pada tahun 1732, Kamaluddin terpilih menggantikannya naik tahta tahun 1732, namun Kamaluddin tidak begitu tertarik tentang pemerintahan dan peperangan, akhirnya pada tahun itu juga dia memilih menuju Sumbawa untuk menemui tambatan hatinya dan meninggal tahta pada tahun yang sama ketika dia naik tahta yang telah menjadi haknya.

Setelah Kamaluddin meninggalkan tahta Kesultanan Dompu, maka majelis kesultanan memilih Daeng Mamu sebagai sultan Dompu dan dikukuhkan di Makassar pada tahun 1737. Daeng Mamu adalah cucu dari Sirajuddin I, ketika pengukuhan Daeng mamu juga mengalami protes dari keluarga istana namun pengangkatan Daeng Mamu di dukung oleh kekuatan VOC mau tidak mau Dompu harus menerimanya, Daeng Mamu resmi menjadi Sultan Dompu ke V dan dikenal dengan nama Abdul Kahar.


Oleh : Fahrurizki




1 comments Blogger 1 Facebook

  1. Yukk kembali lagi DEWALOTTO dengan permainan lengkap didalam nya dan dengan 1 userid saja sudah bisa memainkan semua permainan lengkap kami lohh dengan minimal deposit 20rb saja sudah dapat bermain semua permainan kami, Yuk segera daftar dan bermain bersama kami disini kami jamin proses cepat dan kenyamanan dalam bermain bersama kami disini yukk silahkan bergabung dengan kami ya pin 7BF59345

    ReplyDelete

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top