Awal abad 16 pada dasawarsa ke 1, Kerajaan Bima mengalami suatu permasalahan yang kompleksitas yaitu antara perebutan kekuasaan dan penolakan terhadap Makassar dimana ketika itu ekspansi Kerajaan Gowa yang membawa agama baru pada tanah Bima (Pulau Sumbawa) di tolak oleh Raja Salisi yang kala itu berkuasa.

Adapun yang berpihak mengikuti Gowa akan ditangkap dan dihabisi oleh pihak raja Salisi, diperkirakan sebelum kedatangan ekspansi militer Gowa tahun 1618 bahwa memang ditanah Bima sudah tersiar kabar tentang raja Gowa yang memeluk Islam (Sultan Alauddin). Penolakan raja Salisi terhadap Islam bersamaan dengan terjadinya konflik dengan keponakannya (Sultan Abdul Kahir) mengenai kedudukannya sebagai ahli waris tahta kerajaan Bima.

Kota Makassar, sebagai pusat penyebaran Islamsetelah tersebarnya Islam ke pedalaman Sulawesi Selatan menjadi semakin ramai. Lalu lintas perniagaan antara pedalaman dan kota Makassar terutama melalui jalan laut menyemarakan kota niaga Makassar (Mattulada, 1982). lukisan pelabuhan Somba Opu 1724-1726, sumber : Nederlands Scheepvaartmuseum

Pada saat itu keponakannya yang bernama Ma Bata Wadu belum memeluk Islam dan menjadi buronan yang akan dibunuh, lalu pada tahun 1618 telah datang orang-orang Luwu, Tallo, dan Bone untuk berdagang di pelabuhan Sape bertemu dengan Bumi Jara untuk menyampaikan surat dan persembahan ingin bertemu dengan Ruma Bicara (Kerajaan Tradisonal di Indonesia : Bima, 1997).

Ruma Bicara saat itu adalah Amalimadai, tapi dia telah wafat kemudian pertemuan itu dibawa oleh Bumi Jara menemui adik Ruma Bicara yaitu Rato Waro Bewi. Dalam Bo kerajaan Bima disebutkan surat dan persembahan tersebut diterima oleh Rato Waro Bewi dibawa ke Teke dan disampaikan kepada La Mbila anak dari Ruma Bicara, kemudian surat tersebut dibaca oleh La Mbila.

Surat tersebut berasal dari Daeng Malaba orang Bima yang tinggal di Bone sepupu dari Bumi Jara. Adapun isi dari surat tersebut mengabarkan bahwa Daeng Malaba bersama keluarganya telah memeluk agama Islam dan beserta kerajaan Gowa, Tallo, Luwu dan Bone juga telah memeluk Islam. Juga surat tersebut berisi mengajak Rumata Bicara untuk masuk Islam karena cocok dengan wasiat keturunan mereka yang dulu-dulu untuk keselamatan rakyat dan negri (L Massir Q Abdullah, 1981/82).

Dalam Bo kerajaan Bima tidak dijelaskan tahun dari penulisan surat tersebut (menurut penulis, kemungkinan ditulis pada tahun yang sama saat kedatangan surat), serta jabatan dari Daeng Malaba itu sendiri tidak dijelaskan. Diperkirakan Daeng Malaba adalah seorang saudagar yang sudah lama berdagang di Sulawesi dan tinggal di Bone, pengislaman kerajaan Bone sendiri terjadi pada tahun 1611 oleh Sultan Alaludin (1593-1639) setelah empat tahun berturut-turut kerajaan Bugis itu dikalahkan (Mattulada, 1982).

Namun Daeng Malaba juga tercatat sebagai orang Bima yang pertama kali memeluk Islam, dalam suratnya yang terkirim di Bima tahun 1618 tertulis bahwa dia dan keluarganya sudah memeluk agama Islam, kemudian diikuti oleh La Mbila, Mabata Wadu (Abdul Kahir) dan Manuru Bata mengucapkan syahadat di Desa Kalodu setelah membaca surat dari Daeng Malaba tersebut beserta penduduk Kalodu ikut memeluk Islam,  masuknya ketiga bangsawan kerajaan Bima tersebut pada agama Islam tercatat pada 7 Februari 1621.


Oleh : Fahrurizki




0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top