Mustahar nama kecil dari Pangeran Diponegoro yang lahir pada tanggal 11 November 1785, menginjak dewasa pada akhir tahun 1805 dia berganti nama menjadi Raden Mas Antawirya. Dia lebih dikenal dengan nama “Pangeran Diponegoro” merupakan sebuah gelar untuk anak para raja Kerajaan Mataram dulu. Putra sulung Sultan Hamengku Buwono III dari istri seorang selir yang berasal dari Pacitan bernama Raden Ajeng Mangkarawati.

Pangeran Diponegoro, memoir perang di Jawa, Lukisan H.M Lange tahun 1847

Pangeran Diponegoro terkenal dengan peristiwa “Perang Jawa” yang berlangsung pada tahun 1825 hingga 1830. Setelah di tangkap dia diasingkan ke Manado dan dipindahkan ke Makassar di Benteng Rotterdam hingga wafat pada tanggal 22 Januari 1855. Penghormatan bangsa Indonesia untuk jasa sosok Pangeran Diponegoro dengan memberikan nama pada kesatuan militer dan nama jalan di berbagai daerah di Indonesia, Pemerintah Indonesia saat Presiden Soekarno mengadakan Haul Nasional100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro pada tanggal 8 Januari 1955. Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 1973 melalui keppres No.87/TK/1973.

Dibalik jiwa patriot sosok Pangeran Diponegoro juga tercatat mempunyai hubungan darah dengan Sultan Bima, di kutip oleh Dr. Peter Carey pada “Serat salasilah para leloehoer ing kadanoerejan” yang termuat dalam buku The power of prophecy. Nama Datuk Sulaiman menjadi kotak pertama pada silsillah tersebut sebagai buyut.

Dalam bukunya The power of prophecy, Dr. Peter Carey membahas bagaimana penelusuran silsillah tersebut, dia menulis “Ratu Ageng Tegalreja bisa melacak keturunannya pada Sultan Bima di Sumbawa, sebuah kerajaan Islam yang sangat independen di Indonesia Timur (sekarang Provinsi Nusa Tenggara Barat) (Serat salasilah para leloehoer di Kadanoerejan n.y.:127).

Dari Dr. Peter Carey kemudian di kutip oleh Marwan Saridjo bahwa garis silsillah dimulai dari Datuk Sulaiman yang merupakan anak dari Sultan Bima menikah dengan Nyai Ageng. Dari pernikahan tersebut lahir Nyai Ageng Derpayuda yang menikah dengan Kyai Ageng Derpayuda kemudian salah satu dari anak Nyai Ageng Derpayuda, Ratu Agung Tegal Rejo menikah dengan Sultan Hamengkubuwono I, melahirkan anak Sultan Hamengkubuwono II, pernikahan Hamengkubuwono II dengan Ratu Kedaton melahirkan Sultan Hamengkubuwono III dan menikah dengan Raden Ayu Mangkorowati kemudian lalu melahirkan Mustahar yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro.(Seperti Perang Jawa Dipimpin Kesatria Berdarah Bima-2012)

Untuk melacak Datuk Sulaiman  yang dikatakan merupakan anak dari salah satu Sultan Bima, mencoba membandingkan dari tahun kelahiran cucunya yaitu Ratu Ageng Tegalreja sekitaran pada tahun 1734 masehi dan Penghulu Pekik Ibrahim (Dipaningrat) juga salah satu cucu yang termuat dalam silsilah, lahir sekitaran pada tahun 1755, di tinjau dari tahun kelahiran Datuk Ibrahim maka dicocokkan Sultan Bima yang berkuasa pada tahun itu adalah Sultan Abdul Kadim Muhammadsyah (1751-1773), bila di mundurkan pada dua keturunan kemungkinan Datuk Sulaiman adalah anak dari Sultan Bima ke 5 yaitu Sultan Hasanuddin yang berkuasa 1675 hingga 1731, bila dibandingkan pada tahun yang terlampir pada silsillah para cucunya. Tahun kelahiran dari Datuk Sulaiman sendiri tidak ketahui.

Gelar Datuk yang disandang oleh Datuk Sulaiman juga biasa dipakai oleh anak-anak Sultan Hasanuddin lainnya seperti Datuk Muslimin anak dari istri melayu-nya. Sultan Hasanuddin mempunyai istri yang bernama Ince Bagus dari kaum melayu, kebanyakan anak-anak beliau memilih jadi melayu dan pergi merantau di berbagai kerajaan, seperti halnya Datuk Muslimin yang merantau di Lombok dan Sumbawa untuk membantu kerajaan tersebut melawan VOC.

Menurut Marwan Saridjo, Datuk Sulaiman adalah cicit dari seorang Raja di Bima yang bernama Marapaki. Dalam artian gelar para Sultan Bima bahwa Marapaki juga bisa berarti yang diasingkan, Sultan Bima yang diasingkan di Daha yaitu Sultan ke 6 bernama Sultan Alauddin Muhammadsyah, dikukuhkan pada tahun 1731. Jika dilihat tahun pengukuhan Sultan tersebut, maka sangat dekat dengan tahun kelahiran Ratu Ageng Tegalreja 1734 cucu dari Datuk Sulaiman yang tidak mungkin jarak usianya sangat muda (Alaudin Muhammadsyah) dengan cicitnya.

Dilihat dari silsilah nasab Pangeran Diponegoro bahwasannya dia merupakan keturunan ketujuh dari Datuk Sulaiman yang merupakan seorang Kiai dan Kepala Desa. Datuk Sulaiman menetap di lereng barat gunung Lawu hingga meninggal, beliau juga dimakamkan disana.

Oleh : Fahrurizki




1 komentar Blogger 1 Facebook

  1. Dikenal dengan DATO LIME RONTU salah satu keturunan beliau adalah BPK.MUHAMMAD LUTFI ( DPR RI )

    BalasHapus

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top