Saat perusahaan dagang asal Belanda, VOC (Vereenigde Oostindinsche Compagnie) mulai melirik Pulau Sumbawa awal abad ke-17, berbagai aktifitas perdagangan dan kontrak terus berlangsung dengan Kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa. Kuda, beras, kain, lilin dan kayu sopang menjadi andalan komoditas perdagangan di Pulau Sumbawa.

VOC yang awalnya hanya datang untuk melakukan perdagangan lambat laun mulai mencampuri segala urusan pada kerajaan-kerajaan setempat. Pada Pulau Sumbawa, awalnya pihak VOC  menjalankan politik etis dalam perdagangan dan juga perjanjian bantuan militer dan persenjataan untuk bersekutu melawan kerajaan di pulau lain.

gambar penaklukan Banten 1682 oleh VOC. Oorlog in Bantam in ´t iaar 1682 goresan Jan Luyken 1689 (koleksi Amsterdam Museum). 

Terlebih lagi setelah dua kerajaan besar telah ditaklukkan seperti Kesultanan Banten dikuasai tahun 1682 dan Kerajaan Gowa jatuh pada tahun 1669 di tangan VOC dibawah pimpinan Cornelius Spelman, otomatis kerajaan di Pulau Sumbawa sebagai sekutu Kerajaan Gowa juga harus tunduk dibawah kekuasaan baru yaitu VOC.

Tapi beberapa dinamika perjuangan terus mewarnai sejarah perlawanan orang-orang di Pulau Sumbawa walaupun secara resmi Makassar telah dikuasai VOC, dalam sejarah perjuangan pribumi melawan kolonial ada tiga nama yang sangat berpengaruh dan membahayakan pihak VOC pada waktu itu yaitu Abdul Basyir (Raja Tambora), Djamaluddin (Sultan Bima), dan Ismail Dea Malela (Ulama Sumbawa).

Tiga orang ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada rakyatnya, berbagai intrik perlawanan yang mereka lakukan sangatlah membuat geram VOC kala itu. Seperti perjuangan Raja Tambora Abdul Basyir setiap kapal dagang Belanda yang lewat di perairan laut Flores akan diserang mengatas namakan bajak laut yang dilakukannya secara sembunyi-sembunyi. Walaupun kala itu Kerajaan Tambora dibawah otoritas Kerajaan Gowa, Abdul Basyir sangat membenci kesewenangan VOC dalam mencampuri urusan kerajaan.

Banyak kerugian finansial VOC yang dikarenakan ulah Raja Abdul Basyir beserta kelompoknya, dan tak segan dia juga bakal menyerang kerajaan lain jika bekerjasama dengan pihak kolonial. Dalam hal itu Raja Tambora juga bersekutu dengan Sultan Bima Djamaluddin menyerang kerajaan yang berpihak pada VOC. Seperti yang tertulis pada catatan lama Kesultanan Bima Bo Sangaji Kai tahun 1693 tentang pembagian masing-masing rampasan perang (Naskah 40-45).

Sultan Bima Djamaluddin sama halnya dengan Raja Tambora yang sangat anti terhadap VOC, berbagai kontrak kerjasama tidak pernah disetujui oleh Sultan Bima tersebut. Pada masa era Sultan Djamaluddin di Kesultanan Bima banyak diangkat Mufti kerajaan dari Ulama Banten yang memberikan pengaruh besar pada kebijakan Sultan, salah satu Mufti yang diangkat yaitu guru Sultan sendiri yang bernama Syekh Umar Al-bantami.

Menurut Tawaludin Haris, sejak kecil Sultan Djamaluddin mendapat didikan Syekh Umar Al-Bantami, dari gurunya tersebut dia mendapat cerita-cerita kepahlawanan Raja-raja Banten yang mempengaruhi sikapnya terhadap Belanda, sehingga kurang mendapat simpati dari pemerintah VOC, tulisnya dalam buku Kerajaan Tradisional di Indonesia : Bima.

Untuk menyingkirkan dua kekuatan tersebut, pihak VOC terus mencari titik kelemahan Raja Tambora dan Sultan Bima. ketika terjadi pembunuhan istri Sultan Dompu Daeng Mami yang secara kebetulan Sultan Bima berada di Dompu untuk menjenguk Daeng Mami yang merupakan bibi dari Sultan Djamaluddin, kemudian VOC mempergunakan kesempatan itu untuk menyingkirkannya.

Tahun 1693 Raja Tambora Abdul Basyir dan Sultan Bima Djamaluddin di adili di Makassar oleh VOC karena dituduh telah bersekongkol membunuh istri Sultan Dompu. Raja Abdul Basyir dijatuhi hukaman dibuang ke Cape Town (Afrika Selatan) tahun 1697 hingga wafat tahun 1719, sedangkan Sultan Bima Djamaluddin dibawa ke Batavia untuk dipenjarakan disana tahun 1696 hingga wafat.

Setelah dua kekuatan yang sangat disegani itu disingkirkan oleh VOC, memasuki abad 18 di Kesultanan Sumbawa muncul kekuatan yang mengancam otoritas Belanda yaitu Ismail Dea Malela, seorang Ulama yang berasal dari Makassar datang di tanah Sumbawa untuk menyebarkan agama Islam bersama ayahnya.

Ismail Dea Malela memiliki pengaruh yang sangat besar dengan pengikutnya yang sangat banyak, VOC merasa terancam dengan segala aktifitasnya di Kesultanan Sumbawa. Pergerakan perjuangan melawan penjajah terus dilakukan oleh Dea Malela di Sumbawa, hingga pada tahun 1752 ketika itu Dea Malela, Dea Koasa dan ayahnya berada di Batavia dipergunakan oleh VOC untuk menangkapnya.

“Tangan dan kaki keduanya berhasil dibelenggu/dirantai. Bersama ratusan pejuang yang sebagian besar ulama dari berbagai kesultanan di Nusantara, Dea Malela dan Dea Koasa dibuang ke Simon’s Bay, Afrika Selatan.” di kutip dari deamalelafoundation.com.

Setelah dipenjarakan di bawah tanah, tahanan khusus budak, Dea Malela berhasil melarikan diri didekat wilayah Bordjiesdrif sebelah utara Buffels Bay pada tahun 1755 hingga wafat disana dan makamnya menjadi keramat bagi umat Islam di Afrika Selatan. Tapi menurut catatan lain, Dea Malela kembali ke Sumbawa dan dimakamkan di Sampar.

Dari ketiga tokoh diatas semuanya mempunyai kesamaan yaitu pada tingkat ilmu agama yang kental dengan nilai-nilai perjuangan dari para leluhur mereka. Raja Abdul Basyir diketahui adalah seorang Hafiz Al-Qur`an sedangkan Sultan Bima Djamaluddin adalah seorang pecinta ilmu agama dan Ismail Dea Malela seorang ulama besar di Sumbawa.


Oleh : Fahrurizki



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top