Awal abad 16 bangsa Eropa mulai berlomba-lomba melakukan penjelajahan di berbagai wilayah Asia terutama bangsa Portugis. Setelah takluknya Malaka di tangan Portugis pada tanggal 24 Agustus 1511 yang dipimpin oleh Alfonso De Albuqueque, gerbang jalur perdagangan rempah-rempah Asia mulai dikuasai terlebih kepulauan Nusantara yang merupakan sumber dari rempah-rempah yang menjadi tujuan mereka selain penyebaran agama.

The carrack Santa Catarina do Monte Sinai dan kapal-kapal Portugis Angkatan Laut lainnya di abad ke-16. Lukisan Oleh Joachim Patinir tahun 1540.

Setelah jatuhnya Malaka, Bangsa Portugis mulai menjajal wilayah Nusantara dan mereka  merupakan bangsa Eropa pertama yang mulai datang di Nusantara, tahun 1512 Antonio de Abreu tiba pertama kali di Ternate untuk melakukan kontrak perdagangan rempah-rempah yang menjadi primadona komoditi perdagangan bangsa Eropa kala itu.

Pada abad itu Pulau Sumbawa tidaklah begitu menarik bagi bangsa Eropa, karena komoditi yang di hasilkan oleh Pulau Sumbawa tidak begitu penting bagi Eropa. Kala itu di pelabuhan Bima hanya sebagai tempat singgah untuk mengisi perbekalan kapal yang menuju Banda dan Maluku. Bima dan Sumbawa mulai menjadi buah bibir para pelaut Eropa pada awal abad ke-17, dimana komoditi beras, kuda, kain, dan kayu dijual dalam jumlah yang banyak.

Dalam catatan Tome Pires seorang pelaut Portugis tercatat sebagai orang Eropa pertama yang datang di Pulau Sumbawa pada tahun 1511, dalam catatan perjalanannya yang tertulis pada Suma Oriental, dia hanya menyebutkan tiga tempat di kepulauan Tenggara (Pulau Sumbawa) yaitu Cimbawa, Byma dan Ilha Do Fogo (Pulau Sangenag). Menurut anggapan dia waktu itu bahwa Bima dan Sumbawa terdiri atas dua pulau Cimbava dan Byma, tapi anggapan itu terbantahkan oleh Peta L. Homen bertahun 1519.

Pulau Sumbawa mulai tercatat dengan nama lain dan belum dikenal. Dalam peta pelaut Portugis, pada tahun 1517 oleh pelaut P. Reinel, kapten Barbosa menyebutnya sebagai Java Menor (Jawa Kecil) dan Cinboada. Sedangkan dalam Peta L. Homen tahun 1519 nama pulau Sumbawa disebut sebagai Lava Minor Insula (Suma Oriental, Hal 279).

Dalam buku “Domaine de Mon Plaisir” ketika seorang botani dan ahli makanan dari Portugis secara tidak sengaja menemukan campuran bumbu yang sangat baik aromanya pada tahun 1767 di kepulauan maritius, campuran bumbu itu adalah sebuah jeruk yang menambah aroma makanan menjadi lezat dan harum, kemudian jeruk itu diberi nama Combava.

Memasuki abad 18 para pelaut Portugis mulai membicarakan pulau Sumbawa pada rute laut menuju  ke Timur, Kemudian Combava di sebut sebagai Pulau Sumbawa oleh pelaut Portugis Manuel Pimentel yang melakukan perjalanan menuju Timur pada tahun 1762. Nama jeruk purut Combava mulai identik dengan Pulau Sumbawa saat seorang pelaut dari Portugis juga yang bernama Pierre Poivre menyebut Combawa sebagai jalur menuju Goa dan Timor.

Untuk wilayah Maluku jeruk ini dinamai oleh para pelaut Portugis dengan nama “Limoeiro de Combava das Molucas” yang berarti jeruk Sumbawa dari Maluku. oleh para pelaut bangsa Arab nama Combava (jerut purut) dinamai dengan “Lime Kaffir” atau jeruk kaffir dimana pada waktu itu pribumi yang kulit hitam dan bukan pengikut Muhammad di tandai dengan Kaffir.

Jeruk purut ini hanya terdapat di kepulaun timur pada waktu itu dan di kalangan para pelaut Portugis banyak merahasiakan resep bumbu dari jeruk purut tersebut. Di Bima jeruk purut dinamai dengan nama “Dungga Mbudi” yang sejak dulu menjadi andalan resep dapur mereka, sedangkan di negara Inggris resep bumbu jeruk purut mulai terkenal pada tahun 1914.

Kemudian komoditi jeruk purut menjadi primadona para pelaut Portugis untuk dijual dinegara mereka dengan harga yang sangat mahal sebagai bumbu masakan yang mempunyai aromatic khas, nama Combava kemudian dipergunakan dalam bahasa Portugis, Spanyol, Italia dan Prancis untuk nama jeruk purut tersebut.


Oleh : Fahrurizki




0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top