Dari beberapa bukti sejarah yang ada di Bima terdapat bukti arkeologi yang berasal dari abad ke 14, yaitu situs Wadu Pa`a dan situs Wadu Tunti yang membuktikan eksistensi peradaban Kerajaan Bima di timur Nusantara sejak dulu. Kerajaan Bima terletak di ujung timur pulau Sumbawa dan mempunyai salah satu teluk sebagai titik jalur persinggahan juga pelayaran para pelaut dan perdagangan.

Juga dalam catatan lama Kerajaan Majapahit yaitu Negarakertagama tertulis pada abad 14 Kerajaan Bima sudah memiliki pelabuhan yang besar pada tahun 1365 M, saat itu ketika Raja Bima yang ke 7 Raja Mitra Indratarati (1350-1370) berkuasa. Kejayaan Kerajaan Bima berkembang pesat ketika Raja Mitra Indratarati menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di pulau Jawa dan juga menikah dengan wanita dari kerajaan di Jawa dan juga meninggal disana.

Istana Kesultanan Bima tahun 1900. (Koleksi Tropen Museum)

Kerajaan Bima mulai di dirikan pada awal abad 13 Masehi pada dasawarsa ke 1, dengan Raja pertamanya Sang Bima I yang dinobatkan pada tahun 1200 Masehi (Peter Truhart, 2003 Regents of Nations, Part 3: Asia-Pacific and Oceania). Kekuasaan Sang Bima I hanya sampai 20 tahun dan digantikan oleh anaknya Indra Zamrud yang dinobatkan pada tahun 1220 masehi.

Banyak beberapa anggapan dan pendapat sejarahwan lokal yang mengatakan bahwa Sang Bima yang mendirikan Kerajaan Bima adalah seorang bangsawan yang berasal dari Kerajaan Majapahit, sedangkan Kerajaan Bima jauh lebih dulu ada di dirikan tahun 1200 sedangkan Kerajaan Majapahit berdiri pada tahun 1293 masehi. Jarak tahun kedua kerajaan tersebut 93 tahun lamanya.

Gambaran tentang Sang Bima selama ini berasal dari Jawa dan sangat ambigu tidak ada catatan yang jelas mengenai dirinya berasal dari Jawa, dalam Hikayat Sang Bima diceritakan dia berasal dari kayangan (Hikayat Sang Bima, Hal 147), dan cerita ini semuanya mirip pada tiap-tiap cerita wayang di Kerajaan Jawa dan Bali. Hikayat Sang Bima ini pun di karang oleh dalang dari Jawa yang bernama Wisamarta pada saat era kepemimpinan Sultan Hasanuddin (1695-1731).

Para raja yang memimpin Kerajaan Bima berjumlah 26 orang, berganti era Kesultanan tahun 1640 dengan jumlah Sultan 14 orang yang memimpin, dari keturunan sang Bima I inilah yang juga mendirikan kerajaan lain yaitu Kerajaan Dompu. Kerajaan Dompu terletak di tengah Pulau Sumbawa, pada zaman dulu Dompu dikenal dengan nama Dompo yang berarti memotong.

Kerajaan Dompu di dirikan oleh Batara Dompo dan di nobatkan sebagai raja pertama pada tahun 1343 masehi, Batara Dompo adalah Putra dari Raja Bima yang ke 4 Sang Bima II (Peter Truhart, 2003 Regents of Nations, Part 3: Asia-Pacific and Oceania). Kemudian tahun 1357 masehi Kerajaan Dompu ditaklukkan oleh Panglima Perang Majapahit yang bernama Mpu Nala (Slamet Muljana, Nagarakretagama dan tafsir sejarahnya).

Lain halnya dengan kisah awal berdirinya Kerajaan Sumbawa, pada awalnya wilayah Sumbawa terpecah-pecah kedalam kerajaan kecil-kecil. Ketika penaklukan Gowa atas wilayah Sumbawa pada tahun 1623 seluruh kerajaan kecil tersebut disatukan membentuk kerajaan pusat yang disebut daerah Kamutar dengan ibukota kerajaan di Sumbawa Besar (Depdikbud,Istana Tua Sumbawa,1988).

Menurut Hasanuddin (LATS), Kesultanan Sumbawa resmi berdiri tahun 1648 saat dilantiknya Dewa Mascini (1648-1668) sebagai Sultan pertama. Berdirinya Kesultanan Sumbawa merupakan peralihan dari Dewa Awan Kuning ke Dinasti Dewa Dalam Bawa.

Pada bagian utara Pulau Sumbawa wilayah semenanjung sanggar juga terdapat tiga kerajaan yang aktif hingga terjadi letusan gunung Tambora tahun 1815 yang menelan dua kerajaan. Nama ketiga kerajaan di semenanjung sanggar yaitu Kerajaan Pekat, Kerajaan Tambora dan kerajaan Sanggar.

Kerajaan Pekat didirikan pada tahun 1675 masehi dengan raja pertamanya yang bernama Ince. Asal muasal tentang kerajaan ini sangat sedikit tapi dalam bahasa Sumbawa Pekat adalah burung kakak tua sedangkan dalam bahasa Bima Pekat itu berarti putih. Kemudian tahun 1815 terjadi bencana erupsi gunung Tambora saat itu Kerajaan Pekat di pimpin oleh Raja Abdul Muhammad yang di lantik pada tahun 1794 dan juga raja terakhir yang meninggal saat Tambora meletus.

Lalu ada Kerajaan Tambora yang juga didirikan bersamaan dengan Pekat yaitu tahun 1675 oleh Raja yang bernama Bagus Ima yang berasal dari Klungkung. Awalnya kerajaan ini bernama Kerajaan Kengkelu kemudian tahun 1626 Kerajaan Gowa menaklukkan Kengkelu, karena Bagus Ima sering menyerang para pelaut di perairan semenanjung sanggar maka Kerajaan Gowa menangkapnya dan menempatkan seorang Bumi Soro yang bernama Djamaluddin dan mengganti nama kerajaan menjadi Tambora.

Kemudian ada Kerajaan Sanggar yang didirikan pada tahun 1700 masehi oleh raja pertama yang bernama Hasanuddin berkuasa hanya empat tahun lamanya. Ketika erupsi gunung Tambora meluluhlantahkan semenanjung sanggar dua kerajaan hilang tertelan Bumi dan hanya Kerajaan Sanggar yang bertahan.

Ketika erupsi Tambora terjadi saat itu raja yang berkuasa adalah Raja Ismail Halidayan yang dilantik pada tahun 1805 masehi, kemudian Kerajaan Sanggar di likuidasi kedalam Kesultanan Bima oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1926 dan yang berkuasa saat itu adalag Raja Abdullah yang dilantik pada tahun 1900 dan menjadi raja terakhir Kerajaan Sanggar.


Oleh : Fahrurizki



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top