Pada tanggal 6 Mei 1942 kala itu suasana di Kota Raba jam 07.00 pagi masih terasa hening dan sunyi berhubung itu hari Minggu, tiba-tiba suara kegaduhan terdengar di kantor Polisi Raba, dimana para pemuda Bima melakukan aksi penculikan para pejabat Belanda untuk mengambil alih kekuasaan Bima secara penuh. Semua para pejabat Belanda tersebut di kumpulkan di Asrama Polisi (Polisi Hindia Belanda), para pejabat itu antara lain adalah Karsboon (Agent KPM), Bevelaar (Agent BPM), Keper (Inspektur Polisi), Van der Capellen (Hoofd Opziechter), Luller (Hoofd Cipier), Daniel Adu (Mantri Polisi) dan Mr. Hachman (Controleur Bima).

Foto : Warga Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942, sumber foto forum.axishistory.com
Aksi keberanian para pemuda dalam melakukan aksi penculikan tersebut juga di bantu oleh para serdadu KNIL yang memberontak karena sudah beberapa bulan terakhir mereka sudah gusar akan kepemimpinan Keeper sebagai Inspektur Polisi di tambah beberapa bulan mereka tidak lagi di gaji oleh pemerintah Hindia Belanda. Juga tersiar kabar bahwa jepang sudah menguasai Makassar dan penyerahan tanpa syarat oleh Letnan Jendral H Ter Poorten Panglima angkatan perang Hindia Belanda kepada Jendral Imamura pada tanggal 4 Maret 1942 (Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat_1991).

Penculikan itu bermula ketika kondisi pemerintahan Hindia Belanda semakin terdesak oleh kekuatan militer Jepang di Makassar dan tinggal hitungan hari Makassar sepenuhnya akan di kuasai oleh Jepang. Tepatnya pada tanggal 30 April 1942 di pelabuhan Bima kedatangan dua orang penerbang Belanda yang datang dari Kendari (Sulawesi) untuk melarikan diri menuju Australia. Karena bahan bakar pesawat mereka tidak cukup untuk menuju Australia maka mereka memaksa perahu dari Madura tersebut untuk membawa mereka menuju Australia.

Karena di tolak oleh pemilik perahu, lalu kedua penerbang Belanda itu menembaki dan merusak perahu dari Madura tersebut. Tindakan sewenang-wenang dari kedua penerbang Belanda tersebut menimbulkan amarah para pemimpin-pemimpin rakyat yang beberapa hari sebelumnya sudah tergabung dalam suatu komite aksi untuk merebut kekuasaan pemerintahan dari tangan Hindia Belanda (Kerajaan Tradisional di Indonesia : Bima_1997).

Melihat belenggu penjajah yang berbuat sewenang-sewenang di Bima, akhirnya para pemuda tersebut menyusun rencana untuk merebut kekuasaan secara diam-diam tanpa ada pertumpahan darah atau korban jiwa. Rencana penculikan tersebut akan dilakukan pada hari Minggu karena kondisi Raba pada hari itu sangat sepi dari aktifitas.

Para pemuda yang akan melakukan aksi penculikan itu tergabung dalam kepanduan (organisasi) Hisbul-Wathan Muhammadiyah (HW), Pemuda Anshor dan di tambah 14 serdadu KNIL yang membelot. Para tokoh pemuda itu antara lain : Amin Daeng Emo, Rato Satambe, Yusuf Sulaiman, Muhammad Yakub Monggo dan H. Yasin Dena. Sedangkan dari pihak KNIL yang membelot tersebut di pimpin oleh Aritonang.

Aksi penculikanpun dilakukan dengan langkah pertama yaitu mengepung kantor Polisi di Raba secara diam-diam yang di lakukan oleh Aritonang, Iskandar dan Muhammad. Setelah kantor Polisi di kuasai penuh dan para polisi yang berpihak pada Belanda di tangkap. Kemudian langkah kedua yaitu menguasai pusat Sentral Telpon dan Radio di kamar Bola yang dilakukan oleh Muhammad Qasmir, Nunung, Sinolon dan Amir. Setelah dua rencana tersebut berhasil agar Belanda yang lain tidak kabur maka di buatlah pos-pos penjagaan. Di jalan Kumbe dipimpin oleh Suwondo dan Sudirman dan di jalan Dorondula di pimpin oleh M. Yahya, di Jembatan Padolo di pimpin oleh Hakim Hantabi sedangkan di Jembatan Ranggo di pimpin oleh Burhanuddin.

Malampun tiba dan aksi penculikan itu tetap dilancarkan oleh para pemuda dengan langkah ketiga yaitu rencana penculikan Pejabat-pejabat penting Belanda di rumahnya. Semua pejabat penting Belanda yang bertugas di Bima di culik dan dikumpulkan di Kantor Polisi,  hanya tiga pejabat Belanda yang berhasil lolos dari penculikan yaitu H.E Haak Asisiten Residen, Pons Direktur Algeemene Volks Credit Bank dan J.W. Ros Bosch Architect, juga di tambah dua penerbang Belanda yang merusak perahu. Ketiga pejabat Belanda yang lolos tersebut melarikan diri ke Sumbawa Besar dengan membawa semua uang kas Bank.

Asisten Residen H.E Haak saat tiba di Sumbawa Besar, dia mencoba menghasut Sultan Sumbawa yaitu Sultan Kaharuddin III untuk menyerang Bima dengan alasan dari Haak bahwa para pemuda di Bima menangkap dan memenjarakan Sultan Bima yaitu Muhammad Salahuddin selaku mertua Sultan Sumbawa. tapi hasutan Haak tersebut tidak ditanggapi oleh Sultan Sumbawa (Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat_1991).

Kemudian Haak memanggil bantuan Polisi di Lombok untuk menyerang dan merebut kembali keuasaan Hindia Belanda di Bima. Tapi jauh hari di Bima sudah terdengar kabar bahwa Asisten Residen Haak akan menuju Bima bersama pasukan dari Lombok untuk menyerang kembali. Mendengar informasi tersebut para pemuda Bima menuju Sori Utu di Dompu untuk melakukan penghadangan awal pasukan Belanda. Setelah pasukan Belanda tiba di Sori Utu tanpa mereka sadari tiba-tiba di serang oleh para pemuda Bima dan pertempuranpun terjadi, pasukan Belanda mengalami kekalahan karena penyerangan secara tiba-tiba tanpa persiapan yang dilakukan oleh para pemuda Bima.

Keadaan pasukan Belanda kacau balau mengalami kekalahan dan tak terkontrol sehingga membuat mereka kembali menuju Sumbawa Besar. Dari pihak Belanda yang jatuh korban yaitu kedua penerbang yang menembaki kapal di pelabuhan, memang sejak dulu di incar oleh para pemuda dan dari pihak pemuda Bima meninggal satu orang yaitu Idris Hakim, pertempuran tersebut di kenal dengan nama “Pertempuran Sori Utu”.

Pasukan Belanda yang melarikan diri di Sumbawa mereka di tangkap oleh pasukan rakyat  Sumbawa atas perintah Sultan Sumbawa. Kondisi di Bima paska penculikan pejabat Belanda, kekuasaan pemerintah sepenuhnya kembali kepada Sultan Bima dan sekaligus berakhirnya penjajahan Hindia Belanda atas Bima. Lalu para pejabat Belanda yang di culik itu di serahkan pada pihak Jepang yang tiba di Bima pada tanggal 17 Juli 1942.

Oleh : Fahrurizki




0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top