Kemerdekaan Republik Indonesia di Pulau Sumbawa khususnya Bima tidaklah luput dari perjuangan hidup dan mati para Guru muda. Mereka ikrarkan diri untuk memperjuangkan kemerdekaan Merah Putih di Bima hingga tetesan darah terakhir, peran para Guru dalam memerdekakan Bima kala itu didasari oleh kabar Proklamasi kemerdekaan 1945 yang di bawa oleh dua pemuda dari Singaraja.

Para pemuda yang memproklamirkan Kemerdekaan di Bima itu adalah para Guru muda yang mendedikasikan diri mereka untuk membangun generasi yang cerdas guna terbebas dari belenggu kolonialisme di Nusantara. Dari puluhan pejuang yang berprofesi sebagai Guru muda anatara lain adalah M. Thayib Abdullah, M. Nur Husen, Yaman Ibrahim, Ishaka Abdullah, Abubakar Abas dan Ilyas Mustafa.

Setelah memproklamirkan kemerdekaan di Bima pada tanggal 24 September 1945 Ishaka Abdullah dan M Amin Saleh membentuk Angkatan Pemuda Indonesia atau di singkat API. Dalam struktur organisasi perjuangan API kebanyakan anggotanya berprofesi sebagai Guru pengajar di Bima.

Setelah terbentuknya API di Bima hal pertama yang mereka lakukan adalah melawan pasukan Jepang yang menduduki Bima mulai sejak 17 Juli 1942. Pada tanggal 25 Desember 1945 terjadi penyerbuan di markas API cabang Sape oleh tentara Jepang, dikarenakan Mayor Jendral Tanaka mengeluarkan surat perintah No. 12/3/BTNP agar semua senjata milik organisasi Rakyat atau perorangan agar di serahkan pada Jepang.(Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 Daerah Nusa Tenggara Barat. 1979).

Pada tanggal 29 Desember 1945 peryerbuan kembali dibalas oleh Pasukan API sehingga terjadi kontak senjata dari jam 2 hingga jam 10 keesokan harinya. Dimana peristiwa tersebut di kenal dengan Perang Oi Maci di Pelabuhan Sape, atas perintah Sultan Bima kedua anggota API di Sape yaitu Mustamin Abdurrahman dan Abdulmajid Yusri di tangkap karena dianggap sebagai pengacau.(Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 Daerah Nusa Tenggara Barat. 1979).

Kemudian terjadi lagi penyerangan besar-besaran di markas Jepang yang bertempat di Raba pada tanggal 1 Januari 1946 oleh Pasukan API. Pertempuran tersebut terjadi 2 hari lamanya hingga 2 Januari 1946. Sepak terjang para pejuang API dalam hal menyerang markas mereka di Raba Dompu dan Lawata membuat geram Mayor Jendral Tanaka sehingga API dinyatakan sebagai pengacau yang harus di hilangkan dari Bima. Sehingga pada tanggal 10 Januari 1946 pimpinan API Thayib Abdullah bersama Ishaka Abdullah di tangkap oleh Jepang yang di tuduh sebagai orang “Merah Putih” dan pengacau keamanan daerah.

Setelah sisa pasukan Jepang di Bima berhasil di usir, maka hal yang sangat mengecewakan para pemuda  tersebut yaitu masuknya NICA (Nederlandsch IndiĆ« Civil Administratie) di Bima. Penangkapan  besar-besaran di lakukan oleh NICA pada para Pejuang “Merah Puith” Bima tanpa ada pembelaan yang dilakukan oleh Sultan Bima. Di kutip dari memoir-nya Thayib Abdullah bahwa NICA masuk ke Bima pada tanggal 12 Januari 1946 (Rangkaian Melati Kehidupan H.M Thayib Abdullah.1997).

Kemudian bergabungnya Kesultanan Bima ke Negara Indonesia Timur (NIT) pada tanggal 24 Desember 1946, membuat seluruh pemuda kecewa atas keputusan yang dilakukan oleh Sultan Bima bergabung dengan NIT, karena merasa sangat marah dan kecewa mereka melakukan perlawanan sehingga seluruh pejuang API sebagian ada yang di tangkap dan sebagian ada yang mengasingkan diri.

Awal bulan Januari 1947 empat tokoh API yaitu Thayib Abdullah (Ketua API), Nur Husen (Ka-Staf API), Yaman Ibrahim (Staf Penerangan KNI) dan Ilyas Mustafa (Ka-Staf Latihan API) menuju kota Kupang untuk mengajar di sekolah asuhan PERSIT (Persatuan Istri Tentara) dan sekaligus menghindar dahulu dari intaian para mata-mata NICA yang terus memantau pergerakan mereka dalam mengatur strategi perjuangan.

Sekembalinya dari Kupang tahun 1949 para Guru tersebut tetap melanjutkan perjuangan mereka melawan NICA dan antek-anteknya, penyiksaan dan penjara adalah teman baik bagi para pejuang API. Setelah sekian lama melakukan perlawanan terhadap penjajahan, kabar baik datang dari Jakarta yaitu undangan yang ditujukan untuk perwakilan pejuang Bima agar datang menghadiri penyerahan kedaulatan RI oleh pihak Belanda. Tanggal 27 Desember 1949 berangkat Thayib Abdullah, Saleh Bakri dan Idris M. Djafar untuk menghadiri undangan tersebut di Jakarta.


Oleh : Fahrurizki




0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top