Sultan Bima X Mantau Dana Sigi atau yang berarti Yang Mempunyai Tanah Masjid bernama asli Sultan Ismail Muhammadsyah (1817- 1854), di kukuhkan menjadi Sultan tahun 1817 menggantikan ayahnya Ma Ntau Asi Saninu. Saat Sultan Ismail berkuasa kondisi ekonomi Kesultanan Bima tidak begitu baik akibat efek dari letusan gunung Tambora yang berkepanjangan (letusan Tambora tahun 1815).


Gelar Anurmerta Mantau Dana Sigi mempunyai beberapa versi cerita yang berbeda seperti dikatakan bahwa Sultan Ismail sejak kecil sangat senang belajar di Masjid, dalam Syair Kerajaan Bima karya Khatib Lukman menceritakan, Akhirulkalam pada hari ketiga setelah upacara penobatan, sultan makan bersama-sama dengan para pegawai Mesjid; maka gendering sakti di bawa pulang ke Desa dan semua orang pulang kerumahnya masing-masing (Hal 252).

Sultan Ismail wafat pada tanggal 4 Juni 1854 dan dimakamkan pada komplek pemakaman para pendahulunya di Masjid Raya Kesultanan Kampo Sigi (Masjid Sultan Muhammad Salahuddin).

Sultan Bima XI Mawa`a Adil yang berarti yang membawa keadilan yang bernama asli Sultan Abdullah  lahir pada tahun 1844, dikukuhkan menjadi Sultan pada tahun 1854, asal usul pemberian gelar Anumerta Mawa`a Adil berawal pada tahun 1857 terjadi perlawanan pada Belanda dengan dikeluarkannya pajak pelayaran yang dikuasai sepenuhnya oleh Belanda, sehingga Kerajaan Gowa melakukan perlawanan pada peraturan tersebut.

Untuk menenangkan kondisi pemberontakan tersebut oleh Belanda menyuruh Sultan Abdullah untuk memerangi Kerajaan Gowa dan Kerajaan lain yang menolak peraturan pelayaran tersebut. Karena merasa Kerajaan Gowa adalah saudara seibu membuat Sultan Abdullah mengeluarkan keputusan yang sangat sulit dengan membubarkan angkatan laut Kesultana Bima supaya terhindar dari perang saudara, keputusan Sultan tersebut juga di dukung oleh para pejabat Kesultanan Bima, sehingga dari situlah gelar Anumerta Mawa`a Adil diberikan.

Kemudian Sultan Bima XII Mawa`a Sampela yang berarti yang membujang, bernama asli Abdul Aziz putra dari Sultan Abdullah lahir pada tahun 1863. Dikukuhkan menjadi Sultan pada tahun 1868 saat usianya 6 tahun, menginjak usianya 20 tahun beliau meninggal dalam status masih membujang (belum beristri) maka dari itulah diberi gelar Anumerta Mawa`a Sampela.

Setelah Abdul Aziz (Mawa`a Sampela) meninggal tahun 1881kemudian digantikan oleh adiknya Sultan Ibrahim (1881-1915) Sultan Bima ke XIII yang bergelar Anumerta Ma Taho Parange berarti Yang Baik Perangai.

Saat Sultan Ibrahim berkuasa pada waktu itu terjadi beberapa pergolakan perlawanan terhadap keluarnya Pajak (Belasting) oleh Hindia Belanda yang sangat mencekik rakyat. Seluruh pelosok rakyat  negeri Bima mulai tahun 1907 hingga 1909 melakukan perlawanan yang dikenal dengan perang Donggo, perang Dena dan perang Ngali (tiga tempat yang besar terjadi perang).

Tahun 1908 terjadi gerakan protes dari para pejabat Kesultanan Bima yang dikenal dengan istilah “Ma Kalosa Weki” berarti yang mengundurkan diri serentak karena menolak peraturan dan kebijakan Sultan Ibrahim untuk ikut membantu KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) memerangi rakyat sendiri. Hal tersebut menjadi dilema bagi Sultan dimana satu sisinya Sang Sultan sangat mencintai rakyatnya.

Siapapun yang melawan atau menolak Pajak (Belasting) tersebut oleh Pemerintahan Hindia Belanda akan di anggap sebagai pemberontak dan musuh, oleh Sultan Ibrahim membiarkan para mentrinya (pejabat istana) memilih apa yang benar untuk mereka lakukan, dan kemungkinan dari sinilah gelar Anumerta Ma Taho Parange diberikan. Selain itu juga Sultan Ibrahim juga terkenal sangat mencintai rakyatnya.

Sultan Bima XIV Ma Kakidi Agama mempunyai arti  yang meneggakkan Agama bernama Sultan Muhammad Salahudin di angkat menjadi Sultan pada tahun 1915 menggantikan ayahnya Sultan Ibrahim. Banyak sekolah-sekolah Islam didirikan oleh Sultan dan di mata rakyatnya dia juga dikenal sebagai Ulama.

Sangat suka membaca dan mengoleksi buku-buku dari ulama terkenal dari dalam negeri maupun luar negeri, beliau juga merupakan seorang penulis dengan karyanya buku agama yang diberi judul “Nurul Mubin”.

Dan yang menariknya ada dua gelar yang diberikan kepada Sultan Muhammad Salahuddin selain Ma Kakidi Agama yaitu Ma Mbora di Jakarta yang berarti meninggal di Jakarta, beliau wafat di rumah sakit Cikini - Jakarta pada tahun 1951 setelah penyakitnya tidak dapat lagi di obati dan juga dimakamkan di sana.


Oleh : Fahrurizki



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top