Kerajaan Bima salah satu Kerajaan besar yang berada di Nusa Tenggara tepatnya di ujung timur Pulau Sumbawa. Berdiri sejak abad 13Masehi dengan Raja pertama Sang Bima (1200-1220), pastinya suatu Kerajaan besar juga mempunyai daerah-daerah taklukkannya, dalam catatan Kerajaan Bima yang di sebut Bo Sangaji Kai naskah 32-33 menceritakan penaklukkan Kerajaan Bima di Timur yang meliputi Solo, Sawu, Solor, Sumba, Larantuka, Ende, Manggarai dan Komodo.

Foto Para Pejabat perwakilan Sultan Bima, Naib (di tengah) di depan Asi Pota - Manggarai tahun 1900
(Sumber Foto : Tropen Museum) 
Penaklukkan wilayah timur oleh Kerajaan Bima pertama kali pada abad 15 oleh Raja Bilmana (1480 – 1490) saat dia menjabat sebagai Tureli Ngampo Kerajaan. Penaklukkan tersebut hanya meliputi dua wilayah yaitu Sumba dan Manggarai, kemudian penaklukkan kedua oleh anak Raja Bilmana yang bernama Makapiri Solor. Menaklukkan wilayah ke timur yaitu Solo, Sawu, Larantuka, Ende hingga Solor (Bo Sangaji Kai, Catatan Kerajaan Bima Hal.5). dari sinilah latar belakang nama Makapiri Solor diberikan saat dia menaklukkan wilayah timur hingga ke Solor sebab itu Makapiri Solor yang artinya menaklukkan sampai Solor.

Setelah semua wilayah di kuasai oleh Kerajaan Bima maka Kerajaan membentuk perwalian di wilayah timur, untuk wilayah Manggarai di pegang oleh Jena Luma Mbojo yang meliputi wilayah timur sampai Solor. Kemudian untuk wilayah Sumba di pegang oleh Jena Mone Na`e yang meliputi seluruh pulau tersebut.

Semua wilayah taklukkan wajib membawa upeti di Tanah Bima, penyetoran upeti terus dilakukan hingga memasuki era Kesultanan, beberapa tahun awal Kesultanan (1640) wilayah Sumba tidak melakukan penyetoran upeti lagi Sehingga Sultan Abdul Kahir mengirim pasukannya ke tanah Sumba di pimpin oleh Rato Jeneli Monta dan Rato Bumi Ngoco, untuk menanyakan perihal kewajiban Sumba membayar upeti sejak penaklukan Makapiri Solor.(Bo Sangaji Kai, Catatan Kerajaan Bima Hal.7).

Kekuasaan Kesultanan Bima atas Ende dan Sumba berakhir pada tahun 1864 (D.F. Van Braam Morris) setelah itu disusul keluarnya keputusan Pemerintahan Kolonial menghapus perdagangan budak dan menempatkan Posthouder di Ende dan Sumba. Posthouder adalah pengawas perdagangan perbudakan di wilayah kepulauan Nusa Tenggara, dalam artikel Nuryahman, S.S  yang berjudul Perdagangan Budak di Nusa Tenggara Sampai Pada Abad Ke-19 menulis, Pada tahun 1879 orang-orang Ende tidak setuju dengan adanya pelarangan tersebut sehingga terjadi banyak perlawanan. Ditempatkannya  Posthouder membuat para pedagang budak kehilangan mata pencaharian mereka sehingga membuat perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial.

Wilayah kekuasaan Kesultanan Bima untuk wilayah timur Manggarai yang meliputi Distrik Reo dan Distrik Pota dan diwakili oleh seorang Naib, di kampung-kampung wilayah distrik ditempatkan seorang Dalu untuk perwakilan Naib. Dalu-dalu tersebut selain sebagai kepala kampung juga mengumpulkan upeti yang diserahkan kepada Naib, kemudian wakil Sultan akan datang mengambil upeti tersebut untuk di bawa ke Bima.

Jumlah wilayah distrik di Reo ada 6 distrik dan juga distrik di pota berjumlah 6, dan 13 wilayah yang dikepalai oleh para Dalu di tiap kampung yang berjumlah ratusan, menurut Zolinger yang di kuitp oleh Braam Morris Daerah dari Bima di Flores meliputi seluas 84,5 mil geografis persegi, sehingga keseluruhan Kerajaan Bima adalah seluas 156 mil geografis persegi.

Kekuasaan Kesultanan Bima di Manggarai dari abad 16 terus berlanjut hingga abad 20, kekuasaan Bima atas Manggarai mulai rapuh pada tahun 1907 karena pajak yang semakin mencekik hingga beberapa Dalu mulai memberontak. Dalam artikel Karel Steenbrink yang berjudul “Dutch Colonial Containment of Islam in Manggarai, West-Flores, in Favour of Catholicism, 1907-1942”, tahun 1910 wilayah pesisir Flores sudah dikuasai berkembang pesat oleh Muslim di bawah pengaruh Sultan Bima, sehingga kesejahteraan pemukiman penduduk di atas pegunungan terabaikan, tulisnya.

Tahun 1910 Misionaris Katolik mulai berdatangan dan membangun sekolah-sekolah Kristen di atas areal pemukiman pegunungan, hal ini di setujui oleh Pemerintahan Hindia Belanda atas misi kesejahteraan Flores. Pembelotan para Dalu di Flores yang di pimpin oleh seorang anak Dalu Todo yang bernama Alexander Baroek di dukung oleh Belanda dan para Misionaris memberikan pengaruh politik dan sosial pada Katolik yang merugikan pengaruh Bima di Manggarai.

Tahun 1920 hubungan Flores dengan Kesultanan Bima resmi putus , tahun 1929 daerah Manggarai dan pulau-pulau sekitarnya (termasuk Pulau Komodo) menjadi daerah Neo-Landschap yang sekarang menjadi Nusa Tenggara Timur (NTT). 14 November 1930 perayaan peresmian Alexander Baroek sebagai zelfbestuurder baru atau Raja Van Manggarai yang  di adakan di Ruteng.


Oleh : Fahrurizki  




0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top