Pemberian gelar Anumerta para Sultan Bima sangat menarik, karena mempunyai latar belakang cerita dan kisah yang menarik. Gelar para Sultan tentunya sangat mempunyai makna atas apa yang dia lakukan untuk Kesultanan atau peristiwa yang berjasa. Penamaan gelar Anumerta para Sultan ini juga turun dari para Raja sebelumnya.

Lukisan Kuburan Sultan Abdul Khair Sirajuddin, Nuruddin dan Jamaluddin di Tolobali
di lukis oleh A.J Bik tahun 1821

Pemaknaan gelar Anumerta para Raja dan Sultan Bima bila di artikan bisa juga membuat kita tersenyum karena penamaan yang di artikan ke dalam Bahasa, di mulai dari era Kerajaan misalkan Manggampo Jawa Raja bima yang ke VIII yang berarti menjalin hubungan dengan Jawa yang berkuasa dari tahun 1370 – 1400, Manggampo Jawa ini mempunyai jasa dimana dia membawa seorang guru dari Jawa yang bernama Ajar Panuli untuk mengenalkan tekhnologi batu bata dan aksara Bima.

Kemudian ada Raja Bima yang ke XV dengan gelar Anumerta Makapiri Solor I yang bernama asli Bilmana berkuasa tahun 1480 – 1490, Bilmana hanya berkuasa sepuluh tahun lamanya karena memilih untuk menjelajah wilayah timor dari Sumba hingga Solor, maka dari itu julukannya Makapiri Solor I yang berarti penakluk hingga Solor.

Raja Bima yang ke XVIII Mambora Pili Tuta berkuasa dari 1500 hingga 1520, Mambora Pili Tuta yang berarti meninggal karena sakit kepala. Kemudian gelar Mantau Asi Peka yang berarti mempunyai istana putih Raja Bima ke XXVII yang bernama asli Salisi berkuasa 1590 – 1620, sejak Mantau Asi Peka berkuasa terjadi peperangan dengan Kerajaan Gowa yang mendukung keponakannya Ma Bata Wadu untuk menjadi Raja.

Ma Bata Wadu nama dari Sultan Bima pertama yaitu Abdul Kahir, ada dua pendapat dari gelar Ma Bata Wadu ini, menurut sejarahwan lokal bahwa gelar Ma Bata Wadu berarti yang mempunyai kuburan batu, sedangkan pendapat dari Henri Chambert Loir bahwa Ma Bata Wadu yang berarti membuat benteng batu.

Sultan Bima II Mantau Uma Jati yang berarti mempunyai rumah dari kayu Jati bernama asli Abdul Khair Sirajuddin berkuasa 1640 – 1682,seringnya beliau pergi berperang membantu Kerajaan Gowa hingga jarang sekali berada di negerinya, setelah kejadian perjanjian Bongaya 18 November 1667 Kerajaan Gowa jatuh ke tangan VOC, Sultan Abdul Khair Sirajuddin memutuskan beristirahat di negerinya dan membangun sebuah rumah peristirahatan dari kayu Jati maka dari itulah Sultan di beri gelar Mantau Uma Jati.

Lalu ada Sultan Bima III Ma Wa`a Paju yang berarti membawa payung, nama aslinya Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah, berkuasa dari tahun 1682 – 1687, seperti bapaknya Sultan Abdul Khair Sirajuddin sering pergi untuk berperang membantu Kerajaan lain melawan VOC. Sultan Nurudddin tahun 1674 menuju Madura bersama Karaeng Galesong untuk membantu Pangeran Trunojoyo melawan VOC, sepulangnya dari Madura oleh Pangeran Trunojoyo memberikan hadiah dengan sebuah payung kebesaran, maka dari situlah gelar Ma Wa`a Paju di dapatkan.

Kemudian Sultan Bima IV Ma Wa`a Romo yang berarti membawa mulut, bernama asli Jamaluddin Ali Syah berkuasa dari tahun 1687 – 1696 menggantikan ayahnya Sultan Nuruddin, tahun 1693 Sultan Jamaluddin di tuduh membunuh bibinya Daeng Mami isitri dari Raja Dompu, lalu Sultan Jamaluddin di adili di Makassar bersama Raja Tambora yang juga di tuduh terlibat dalam pembunuhan itu, di hadapan para Raja dan Gubernur Makassar melakukan pembelaan seorang diri hanya mulutnya yang membantu. Dari situlah gelar Ma Wa`a Romo (Membawa mulut) di berikan kepadanya. (Bersambung)


Oleh : Fahrurizki



0 komentar Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top