Selain tempat berkumpul dan persembunyian  para perompak Pulau Sangiang juga merupakan pulau penghasil kerang, ikan, juga pertanian dan peternakan yang melimpah, di mana sebagai tempat persinggahan kapal-kapal yang menuju ke timur maupun yang menuju barat untuk mengisi perbekalan kapal.

Wevende vrouwen op het eiland Sangéang Timor (Para Wanita Menenun di Pulau Sangiang Timor, 1900, Sumber Foto ; Tropenmuseum)

Pulau Sangiang sejak abad 14 hingga 19 mempunyai peradaban tersendiri dari pulau tetangga mereka yaitu Pulau Sumbawa, seperti tertulis dalam buku catatan harian ekpedisi ‘Siboga’ tahun 1899 yaitu ekpedisi penelitian ekosistem laut dimana mereka mengisi perbekalan air bersih, bahwa Pulau Sangiang mempunyai keindahan laut serta ekosistem-nya yang sangat menarik dan kapal Siboga juga sangat sulit untuk menepi di sebabkan oleh batu karang.

“Goenong-api atau di kenal dengan nama Sangeang. Pulau ini memiliki penduduk sekitar 300 jiwa, yang dikendalikan oleh "Dalloe" yang di Wira. Pulau ini menghasilkan sekitar 60 pikul kapas, yang dipertukarkan di Bima untuk beras dan keperluan lainnya. Makanan pokok penduduk jagung dan labu. Pulau ini juga merupakan kediaman orang buangan (tahanan), yang dihukum untuk waktu tertentu.” (Tijdschrift voor Neerland's Indië jrg 14, Terbitan Lands-Drukerij, Hal 12, Tahun 1852).

Oleh para peneliti maupun pelaut Pulau Sangiang Api juga dikenal dengan nama Gunung Api di timur (Goenoeng Api in het Oosten) yang mempunyai nilai historial tersendiri, dari catatan di atas bisa di pastikan bahwa areal Pulau Sangiang sangat subur dengan berbagai macam pertanian yang di hasilkan sejak dulu hingga sekarang, salah satu keuntungan dari dampak letusan gunung api sangat baik untuk pertanian menghasilkan tanah yang subur.

Verzamelplaats in het binnenland voor selectie en castratie van karbouwen te Timor en Soembawa Eiland (tempat ternak kerbau tahun 1900 dan di pastikan lokasi foto ini di Wera, sumber ; Tropenmuseum)

Servas De Bruin seorang penulis dan sastrawan asal Belanda juga sangat takjub dengan Pulau Sangiang, dan dalam bukunya Historisch En Geographisch Woordenboek dia menulis khusus di bagian Goenoeng Api, yaitu :

“Sangeang juga disebut pulau timur dari Pulau Sumbawa, di bawah kekuasaan Sultan Bima, dengan puncak gunung yang tajam di sisi timur, yang selalu meletus terdapat kerbau dan kuda dengan penduduk  300 jiwa, pulau juga berfungsi sebagai tempat tinggal untuk mereke (penduduk) tapi untuk sekarang dilarang untuk sementara waktu.” (Historisch En Geographisch Woordenboek - Servas De Bruin, hal 1183 - tahun publikasi 1869).

Setelah era kesultanan masuk di pulau Sumbawa awal abad ke 17 dan Kerajaan Bima resmi menjadi Kesultanan 1050 Hijriah (1640 Masehi) pergantian Ncuhi (kepala suksu) diganti dengan Gelarang dan Dalu (kepala kampung), dari era Kesultanan inilah masyarakat Pulau Sangiang mulai bergabung dengan wilayah Bima sejak mereka membantu Sultan Abdul kahir melawan Salisi hingga berperang dengan Kerajaan Pekat.

Hubungan baik Sultan Bima dan penduduk Pulau Sangiang hingga Wera diberikan keistimewaan dalam perjanjian dengan Sultan Abdul kahir dan di perbaharui terus menerus oleh keturunan Sultan, dan tiap tahun segala macam jenis Tawori (istilah persembahan penduduk Sangiang) untuk di bawa ke istana dua kali setahun (BSK, Hal 128-129). Biasanya kuda perang para Sultan Bima di pilih di Sangiang seperti salah satu kuda Sultan Abdul Khair Sirajuddin yaitu La Manggila merupakan kuda pemberian dari para Dalu di Sangiang karena kuda disana dipercaya mempunyai daya tarik Parafu (magis), serta Pulau Sangiang juga oleh kesultanan Bima dijadikan  sebagai tempat buangan para tahanan yang di hukum di bawah pengawasan Dalu.

Persembahan yang di bawa oleh penduduk Sangiang sangat istimewa dan banyak dari berbagai macam obat dan minyak dari ikan, hingga kain dan Mata Lumbu (kerang besar) dan Wila Maci yang getahnya di buat untuk lem. Segala macam persembahan tersebut terus dilakukan dan diperbaharui, tercatat dalam Bo Sangaji Kai sebagai berikut :

“Dan lagi jabatannya dalam Tanah Bima, baik kesusahan baik kesukaan adanya. Sekedar inilah tersebut hal jabatan orang Sangiang Nisa (nisa bahasa Bima yaitu pulau) kepada paduka Tuan Kita yang dimufakatkan dan diambil permisikam kepada Tanah Wera adanya. Wa Kati[bu]hu haza juru tulis asi bernama Abdullah dan pada zaman mendirikan dan membaharui surat dan capnya oleh Dalu Sangiang bernama La Hami, dan Ama Usu La Gada, dan Ama Hawa La Sarayi, dan Ama Tani La Sulu, dan Ama Sa`o La Umar adanya, Wallahu a`lam.”(naskah 115 tahun 1867 - Bo Sangaji Kai).Bersambung

Oleh : Fahrurizki



1 komentar Blogger 1 Facebook

  1. Lalu kira2 adakah historis asal mula nama sanghiang. Kalembo ade

    BalasHapus

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top