Semua menganggap bahwa kerajaan Sanggar musnah akibat letusan, semua mengira dan salah kaprah mengenai Sanggar musnah, mereka bangkit dari keterpurukan akibat sebuah letusan Tambora 1815 yang maha dahsyat, kisah kerajaannya yang masih tertoreh dalam tinta sejarah Nusantara.


Pantai Piong Sore Hari
Kerajaan Sanggar sebuah kerajaan mandiri yang terletak di sebelah utara Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa. Eksistensi kerajaan Sanggar pada kancah Nusantara di mulai sejak abad 17 masehi, Sanggar mempunyai sosial budaya sendiri ada beberapa sejarahwan mengatakan bahwa Sanggar juga di pengaruhi budaya timur (Sumba), Melayu dan Bima.

Dalam Daghregister VOC tahun 1710 tercatat dalam surat no data 930 dengan keterangan “decisie van het different tusschen de Radjas van Tambora en Sangar over ’t landschap Poenwilo ten faveure van den laastgenoemden g’approbeert, 26 Februari 1710.” Sebuah surat yang di buat di Makassar dan membuktikan eksistensi Kerajaan Sanggar pada wilayah timur Nusantara.

Komoditi kerajaan Sanggar yang paling di kenal pada saat itu adalah Kuda dan hasil hutan yang melimpah ruah. Eksistensi Kerajaan Sanggar juga tidak hanya pada abad 18 masehi dan memasuki abad 19 masehi menjadi masa keemasan Kerajaan Sanggar yang banyak menjalin kerja sama dengan berbagai kerajaan di bidang perdagangan kayu.

Tahun 1815 masehi bulan April sebuah malapetaka  Catastrophe yang sangat hebat terjadi di Pulau Sumbawa yaitu letusan gunung Tambora, erupsi gunung Tambora dalam sekejap memukul Kerajaan Sanggar menjadi sangat terpuruk dan menjadi miskin, dan disini penulis berpendapat bahwa letusan gunung Tambora yang terjadi itu tidak sampai memusnahkan kerajaan Sanggar tapi hanya dua Kerajaan yaitu Tambora dan Pekat. Saat itu kerajaan Sanggar di pimpin oleh Raja Ismail Halilu Dayan.

Diperkirakan oleh penulis bahwa letak kerajaan Sanggar sebelum meletusnya gunung Tambora terletak di daerah Piong, karena dimana terlihat pantai piong letaknya sangat strategis memungkinkan untuk menjadi pelabuhan dengan bentuk yang menyerupai teluk melindungi dari gelombang dan angin. Setelah kerajaan mereka (Sanggar) hancur dengan sisa dari penduduk yang hidup 275 Jiwa (Helius Syamsudin, Letusan Gunung Tambora 1815 : Dampak Lokal dan Global). Kemudian Kerajaan Sanggar membentuk kembali kerajaan mereka di arah timur Semenanjung Sanggar dan tempat itu diberi nama “Boro” yang berarti tempat berkumpul.

Setelah 32 tahun sesudah malapetaka letusan gunung Tambora tepatnya tahun 1847 seorang Botani asal Swiss yang bernama Heinrich Zolinger datang mengunjungi Kerajaan Sanggar. Dalam bukunya “Besteigung des Vulkans Tamboro auf der Insel Sumbawa und Schiderung der Eruption desselben im Jahren 1815” Zolinger mencatat pada saat mereka di Kerajaan Sanggar, dia di sambut baik oleh Raja Sanggar, kemungkinan pada saat itu di pimpin oleh Raja Daeng Manasa (1845-1869).

Dia mencatat perbekalan mereka di berikan oleh Raja Sanggar, untuk perbekalan mereka menuju Tambora, di Kerajaan Sanggar kala itu sangat banyak di tumbuhi oleh tumbuhan Calotropis Gigantea yaitu tumbuhan Biduri yang di manfaatkan untuk obat herbal selain nanahnya yang mengandung racun, nama lain dari Biduri ini yaitu Kore dalam bahasa lokal sehingga saat itu Heinrich Zolinger menyebut nama lain Kerajaan Sanggar yaitu Kore.

Tanaman Calotropis Gigantea atau di sebut Biduri

Oleh : Fahrurizki




2 komentar Blogger 2 Facebook

  1. Bisa minta tolong info lengap kerajaan Sanggar sebelum letusan Tambora ? Termasuk mata uang yg sipake saat itu, bahasa yg dipakai saat itu, dan hubungannya dengan negara Jepang ? Trimakasih, ini email sy: conrad.pamungkas@gmail.com

    BalasHapus
  2. Bisa minta tolong info lengap kerajaan Sanggar sebelum letusan Tambora ? Termasuk mata uang yg sipake saat itu, bahasa yg dipakai saat itu, dan hubungannya dengan negara Jepang ? Trimakasih, ini email sy: conrad.pamungkas@gmail.com

    BalasHapus

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top