Menjadi Tradisi

Saat Pacoa Jara (pacuan kuda) pertama kali diadakan di Bima tahun 1927 untuk merayakan hari kelahiran Ratu Wilhemina, Pacoa Jara kemudian berkembang menjadi olah raga masyarakat local yang diadakan empat kali dalam setahun, Bima juga didukung oleh banyaknya kuda yang terdapat di daerah Bima seperti Wera, Kore, Tambora, dan Parado.

Dengan adanya keberadaan Pacoa Jara semakin lama semakin digemari oleh masyarakat, dari tahun ketahun Pacoa Jara terus diadakan untuk merayakan hari-hari besar pemerintahan, di era Kesultanan biasanya jika ada hajatan keluarga Sultan seperti pernikahan atau khitanan maka akan diadakan Pacoa Jara. Dari beberapa kuda yang diperlombakan di Pacoa Jara biasanya Sultan atau bangsawan mempunyai kuda tertentu, memasuki era tahun 40-an Pacoa Jara tidak lagi diadakan karena dalam masa peperangan, dan ketika Jepang menduduki Bima dari tahun 1942 hingga 1945 Pacoa Jara dilarang keras karena membuat masyarakat malas.

Dalam kepercayaan masyarakat Bima kuda juga mempunyai ikatan emosional dengan pemiliknya, juga mempunyai beberapa pantangan yaitu “Sampu” seperti setiap pemilik kuda tidak boleh bersetubuh saat kuda akan turun di arena, mencukur kuda hanya diperbolehkan pada hari jum`at saja, karena masyarakat Bima percaya bahwa selain otot dan kecepatan kuda juga mempunyai jiwa layaknya manusia.

Dalam memelihara kuda pacuan tidak sembarang cara dan perlakuan seorang pawang kuda, mereka menganggap bahwa kuda harus dipelihara seperti layaknya seorang anak atau isltilahnya “Ndadi Ina Jara” dimana seorang pawang harus menjadi seorang ibu bagi kuda, karena mereka percaya itu akan memberikan energy dan kecepatan alami seekor kuda seperti saat mereka hidup di alam liar. Jika  cara pemeliharaan kuda pacuan di zaman modern sekarang hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan dan ada juga yang menyuntikkan dophin pada kuda, lain halnya dengan cara orang Bima yang masih mengikuti tradisi lama yang mempunyai ilmu tersendiri untuk memahami dan mempelajari kuda pacuan.


 Pada tahun 1970-an di era Orde Baru mengenai Te`e Jara (taruhan kuda) tidak dianjurkan untuk setiap orang taruhan secara langsung kepada orang lain, tetapi dengan sistem lelang, dimana panitia yang memegang semua taruhan orang. Lain halnya dengan zaman sekarang mengenai Te`e Jara dimana setiap orang langsung transaksi secara langsung dengan orang lain.

Jika saat perlombaan Pacoa Jara sudah selesai para pemilik kuda pacuan biasanya untuk mengisi waktu dan melatih stamina kuda mereka diadakan Trene Jara (training kuda) setiap hari minggu dan juga tidak sedikit orang yang datang untuk menonton maupun bertaruh, Trene Jara ini dilaksanakan jam 8 pagi hingga jam 3 sore dan itupun tergantung banyaknya kuda yang ikut.

Joki Kecil

Dalam bahasa orang Bima si penunggang kuda pacuan itu disebut Juki Jara dimana anak-anak yang berusia 8 hingga 13 tahun menjadi penunggang kuda pacuan, sebenarnya di awal mulai diadakan Pacoa Jara para joki dilakukan oleh orang-orang dewasa yang bertubuh kurus dan tinggi maksimal 160 cm. Hingga  zaman ke zaman joki dewasa berganti dengan joki kecil dengan tujuan mengurangi beban pada kuda.


Untuk melatih seorang joki handal biasanya memerlukan waktu satu bulan lebih dan kadang juga memakan waktu 2 minggu bagi joki yang cepat mengerti, seorang joki berasal dari keluarga pemelihara kuda pacuan yang dilatih turun temurun dan kadang juga seorang joki berasal dari anak masyarakat biasa, biasanya para joki berasal dari kampong yang dekat dengan arena pacuan, dulu yang paling terkenal yaitu joki berasal Manggemaci dan Monggonao.

Seorang joki biasanya di kontrak selama tournament oleh pemilik kuda pacuan dengan syarat tidak boleh lagi menunggangi kuda pacuan milik orang lain, tapi sekarang kebanyakan seorang joki banyak yang memilih untuk freelance dan bebas untuk menunggangi kuda orang lain, untuk bayaran sekali menunggangi kuda pacuan kadang di bayar Rp. 300.000 kadang lebih jika kuda yang dia tunggangi menang dalam perlombaan. Untuk sekarang Joki juga menjadi profesi yang juga didukung oleh orang tua mereka kadang dari penghasilan seorang joki mampu membangun sebuah rumah.


Dalam perlombaan Pacoa Jara seorang joki wajib memakai helm pelindung kepala, kupluk penutup hidung, engkel untuk kedua sendi kakinya dan cambuk yang dipasang pada kedua tangannya, yang pada joki kecil di Bima yaitu mereka sangat jarang memegang tali kekang kuda yang ditunggangi karena sibuk memukul kuda supaya larinya lebih kencang.

Kadang yang menjadi permasalahan bagi profesi seorang joki yaitu harus meninggalkan beberapa mata pelajaran di sekolahnya untuk beberapa minggu jika musim pacuan kuda tiba, ada juga seorang joki yang memilih untuk tetap berkarir di dunia Pacoa Jara jika usianya sudah tidak lagi mendukung untuk menjadi joki maka dia berlanjut untuk menjadi pemelihara kuda pacuan yang ahli.

Oleh : Fahrurizki




1 comments Blogger 1 Facebook

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top