Awal  Mula Pacoa Jara

kuda dalam pandangan masyakarat Bima merupakan sebuah symbol kekayaan dan kekuasaan yang dimana dalam filosofi kehidupan masyarakat Bima yaitu Wei Ma Taho (istri yang baik), Uma Ma Taho (rumah yang baik), Daha (Pasaka) Ma taho (tanah yang baik), dan Jara Mataho (kuda yang baik), keempat filosofi tersebut terus dijaga dalam rutinitas kehidupan masyarakat Bima untuk mencapai kesejahteraan sosial mereka, dan kuda juga menunjukkan strata sosial seseorang dalam bentuk jumlah kuda yang dimilikinya.

Sejak abad ke 14 kuda Bima merupakan komoditi perdagangan yang besar di Bandar Bima, dimana dalam catatan Tome Pires dalam bukunya Suma Orientals bahwa di Bima banyak memperdagangkan kuda-kuda. Juga kuda Bima sering dikirim untuk kebutuhan pasukan kavaleri perang Hindia Belanda di berbagai wilayah, karena fisiknya mampu bertahan di berbagai cuaca, di dalam bukunya Profesor P.J. Yeth “De Volken Van Het Maleische Ras” yaitu mengulas mengenai ras kuda melayu, bahwa kuda Bima mempunyai ciri kepala besar, leher tegak, perut agak maju, kakinyanya kering dengan kuku yang padat, bulu agak kasar dan rambutnya seperti bulu serigala.

Dalam catatan kesultanan Gowa, Bima dan tambora mempunyai pasukan kuda dalam jumlah banyak yang sering dikirm untuk membantu kesultanan Gowa berperang, saat perang Trunojoyo tahun 1674 M pasukan kuda kesultanan Bima di bawah pimpinan Jena Teke Nuruddin bersama Jena Jara Otuteru di kirim untuk membantu Raden Trunojoyo dalam melawan Amangkurat II kerajaan Madura.


Pacuan Kuda yang pertama kali diadakan di bima tahun 1927 (foto : KITLV LEIDEN)


Awal mula Pacoa Jara (pacuan kuda) tradisional sendiri dimulai dari cara seleksi pasukan berkuda untuk  Kesultanan Bima oleh Bumi Jara Ngampo (sebuah jabatan yang memegang pasukan berkuda dan segala urusan mengenai kuda kesultanan) untuk pasukan berkuda, dimana kuda-kuda diuji kekuatan dan kecepatannya di pinggir pantai, di zaman sekarang pacuan kuda pinggir pantai biasa di lakukan oleh masyarakat yang berhuni di daerah pesisir.

pacuan kuda modern mulai diperkenalkan pada abad 20 oleh bangsa Eropa sejak era pemerintahan Hindia Belanda di bawah kedaulatan kerajaan Belanda, di Bima kampung Manggemaci di adakan lomba balapan kuda untuk memperingati hari kelahiran Ratu Wilhemina (1890-1948) pada tangga 31 Agustus 1927 dan juga pertama kali diadakan di Bima. Dari berbagai kalangan Rato (bangsawan) dan penduduk bangsa Eropa sering menghabiskan waktu mereka menonton pacuan kuda di bulan agustus, selain untuk diadakan memperingati hari kelahiran Ratu Wilhemina Pacoa Jara (pacuan kuda) berkembang menjadi budaya baru di kesultanan Bima yang diadakan juga oleh Bumi Jara menjadi olah raga bagi masyarakat Bima.


Oleh : Fahrurizki

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top