Waktu subuh fajarpun merekah
Diturun Allah bala celaka
Sekalian orang habislah duka
Bertangis-tangisan segala mereka

Adalah pada waktu tengah malam
Meletuplah bunyi seperti meriam
Habislah terkejut sekalian alam
Serasa dunia bagaikan karam


Itulah beberapa bait ke 20-21 tentang gambaran kejadian meletusnya gunung Tambora tahun 1815 M dalam Syair kerajaan Bima yang ditulis oleh Khatib Lukman saudara Sultan Abdul Hamid, nama Tambora sendiri sangat banyak versi yang diceritakan melalui lisan oleh orang-orang seperti Tambora yang berarti “mengajak menghilang”, tapi tidak ada mengenai catatan yang lengkap mengenai sejarah nama Tambora. Kerajaan Tambora juga mempunyai hubungan kekerabatan dengan kesultanan Gowa, sejak Karaeng Popo ayah dari Raja Djamaluddin menjadi Bumi Soro yang diperkirankan tahun 1658 dan menikahi anak raja Tambora, karena saat itu Tambora mempunyai bandar (pelabuhan) yang sangat strategis untuk mendukung perdagangan Timur dan Barat.
gambar : Lukisan tentang meletusnya gunung Tambora

Awal meletusnya Tambora diceritakan juga oleh saksi mata dalam catatannya sepulang dari Kalimantan yaitu Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Bingley Raffles ( 1781-1826 ) menulis peristiwa meletusnya gunung Tambora tersebut di dalam bukunya “The History Of Java”(1817) :

" Pulau Sumbawa , 1815 - . Pada bulan April 1815 , salah satu letusan paling menakutkan tercatat dalam sejarah terjadi di provinsi Tamboro , di Pulau Sumbawa , sekitar 200 mil dari ujung timur Jawa .
Pada bulan April dari tahun sebelumnya gunung berapi telah diamati dalam keadaan aktivitas yang cukup besar , abu telah jatuh di atas geladak kapal yang berlayar melewati pantai . Letusan 1815 dimulai pada tanggal 5 April, tapi paling keras pada tanggal 11 dan 12 , dan tidak sepenuhnya berhenti sampai Juli.
Suara ledakan terdengar di Sumatera , pada jarak 970 mil geografis dalam garis langsung ; dan di Ternate , dalam arah yang berlawanan , pada jarak 720 mil. Dari populasi 12.000 , di provinsi Tamboro , hanya dua puluh enam orang selamat .
Angin puyuh yang besar menyerang awak kapal , kuda, sapi , dan apa pun yang datang bersamaan , ke udara ; merobek-robek pohon terbesar oleh akar , dan menutupi seluruh laut dengan kayu apung . Besar saluran tanah ditutupi oleh lava , beberapa aliran yang, mengeluarkan dari kawah gunung Tamboro , mencapai laut .
Jadi berat adalah jatuhnya abu , sampai masuk ke rumah Residen di Bima , empat puluh mil sebelah timur dari gunung berapi , dan diberikan itu , serta banyak tempat tinggal lain di kota , dihuni . Di sisi Jawa abu dibawa ke jarak 300 mil , dan 217 menuju Sulawesi , dalam jumlah yang cukup untuk menggelapkan udara . Abu mengambang ke arah barat Sumatera terbentuk , pada tanggal 12 April, massa dua kaki tebal , dan beberapa mil, di mana kapal-kapal dengan kesulitan berlayar.
Kegelapan di siang hari disebabkan oleh abu di Jawa sangat mendalam , bahwa tidak ada yang sama dengan itu pernah disaksikan di malam gelap .
Sepanjang laut pantai Sumbawa , dan pulau-pulau yang berdekatan , laut naik secara tiba-tiba dengan ketinggian 2-12 meter , gelombang besar bergegas menaiki muara , dan kemudian tiba-tiba mereda . Meskipun angin di Bima masih berhembus terus, laut digulung oleh pantai , dan mengisi bagian bawah rumah-rumah dengan air yang sedalam kaki . Setiap haluan perahu dan dipaksa dari anker , dan didorong di pantai .
Kota yang disebut Tamboro , di sisi barat dari Sumbawa , meluap oleh laut , yang dirambah pantai sehingga air tetap naik delapan belas meter di tempat-tempat di mana ada tanah sebelumnya.


Setelah kejadian meletusnya gunung  Tambora kala itu korban yang selamat di landa oleh kelaparan dan penyakit, keadaan wilayah Tambora telah hancur dan mayat-mayat bergelimpangan, kemudian Gubernur Sir Thomas Stamford Bingley Raffles mengutus Komandan Owen Philips untuk ke Tambora membantu membawa beras buat para korban yang dengan menggunakan kapal Belares dan sampai di pelabuhan Bima pada tanggal 18 April, dalam suratnya kepada gubernur yang ditulis pada tanggal 28 April 1815 di Bima, dia menceritakan :

“kesengsaraan yang sangat parah penduduk telah berkurang dan mengejutkan untuk dilihat-masih ada di sisi jalan sisa-sisa beberapa mayat ... Desa hampir seluruhnya sepi-dan rumah-rumah roboh-penduduk yang masih hidup setelah bertahan dalam mencari makanan. "

Dampak meletusnya gunung Tambora pun sangat parah di rasakan oleh tetangga kerajaan  Sanggar, Bima dan Dompu karena dilanda kelaparan. Owen Philips pun menulis dalam suratnya :

Di Dompo, satu-satunya subsisten penduduk selama beberapa waktu terakhir ini telah menjadi kepala berbagai jenis palem, dan batang pepaya dan pisang.
Sejak Erupsi tersebut, sebuah Diare kekerasan telah berlaku di Bima, Dompu, dan Sangar [Sanggar], yang telah membawa kabur sejumlah besar orang; itu seharusnya oleh Pribumi disebabkan oleh air minum, yang telah diresapi dengan abu, dan kuda juga meninggal dalam jumlah besar dari keluhan yang sama.


Dalam Syair kerajaan Bima yang diceritakan oleh Khatib Lukman tentang meletusnya gunung Tambora mempunyai paradigma religi tersendiri bahwa saat itu (1815) pulau Sumbawa di timpakan bala atas dosa mereka, ketidak adilan, kezholiman terjadi sehingga Allah menimpakan kelaparan dimana-mana, dalam salah satu baitnya yg ke 27:

Asalnya konon Allah Taala marah
Perbuatan Sultan Raja Tambora
Membunuh tuan haji menumpahkan darah
Kuranglah pikir dan kira-kira


Memasuki tahun 1815 kerajaan tambora saat itu dipimpin oleh Raja Abdul Gafur ( ? - 1815) sebagai raja terakhir kerajaan Tambora berkuasa, diceritakan  Roorda van Esynga  awal ledakan gunung Tambora yang menelan tiga kerajaan yaitu Tambora, Pekat dan Sanggar (kemudian  kerajaan Sanggar membangun kembali kerajaan mereka), bahwa saat itu raja Abdul Gafur memerintahkan untuk membunuh Said Idrus saudagar Arab yang datang dari Bengkulu karena menghina raja.

Dalam beberapa versi terkait  tuan haji yang diceritakan oleh khatib Lukman bernama Said Idrus dari versinya Roorda van Esynga , versinya khatib Lukman yaitu Haji Mustafa, dari kedua versi itu juga ada versi Helius Sjamsudin yang berpendapat bahwa syekh yang diperintahkan oleh raja Tambora itu bernama Sekh Muhamad Saleh penyiar agama Islam dari Arab, ceritanya pun mirip yaitu karena dikasih makan daging anjing sekh itupun marah dan raja Tambora tersinggung dan memerintahkan untuk membakar sekh Muhammad Saleh di bakar dan abunya di buang kelaut sehingga menjadi asal muasal nama teluk Saleh.

Oleh : Fahrurizki

Sumber
  1. Chambert-Loir, Henri. Syair Kerajaan Bima. Jakarta-Bandung: EFEO. 1982
  2. Helius Syamsuddin. Letusan Gunung Tambora Tahun 1815: Dampak Lokal dan Global
  3. scientificamerican.com. di kunjungi 25 Mei 2014

0 comments Blogger 0 Facebook

Post a Comment

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top